Minggu, 29 Juli 2012

Sepeda Butut




Bersama dalam dekapan sang bunda adalah anugerah terindah. Lebih indah lagi ketika aku memiliki bunda kedua, bukan ibu tiri lho tetapi ibu angkat. Dalam kesempatan ini aku akan menggoreskan tinta kerinduanku kepada sang bunda kedua. Lalu, bunda kandungku? Insya Allah, aku sudah menyiapkan sesuatu yang indah untuknya. Semoga engkau bahagia dan nantikan karya anakmu ini -bunda- emakku tersayang.
**
Fatimah adalah bunda keduaku alias ibu. Sebelumnya kami hanya tetangga, namun lama-kelamaan ikatan ini seperti keluarga kandung. Sebab tidak ada sanak saudara di tempat kami berada, maka jadilah kami keluarga baru. Setiap hari aku selalu bermain di rumahnya, itu sebelum keluargaku pindah ke desa seberang. Biarpun begitu, keluarganya sering berkunjung ke rumah kami. Hal yang paling membuatku senang kala itu adalah ketika mereka membawa buah tangan yang enak-enak (hehe…namanya juga anak kecil).
Suatu hari kedua orang tuaku pergi meninggalkanku sendiri, hal yang sangat aku benci. Mereka ke luar kota sementara aku  masih sekolah. “Aku tahu mereka akan pergi tapi mengapa tidak menungguku pulang dulu,” hanya jeritanku dalam hati. Kondisi di dalam rumah lengang, suasana hatiku pun kacau. Begitu sampai di kamar, bantal dan guling aku lempar-lemparkan ke atas kasur dan menangis sepuasnya karena aku kesal saat itu.
Di tengah tangis yang sesegukan, aku mendengar suara yang sangat familiar. Cepat-cepat ku keringkan air mata dengan pakaian sekolah yang serba acak-acakan. Ternyata ibu sudah di depan pintu. Melihat diriku yang berantakan, ibu segera mengajakku pulang ke rumahnya, aku menurut. Aku tidak melihat ayah atau pun motornya, hanya sepeda butut yang disandarkan di tembok rumah. “Naik sepeda?” aku heran.
Siang yang terik tak menyurutkan kakinya untuk menggoes sepeda itu, aku hanya diam melihatnya memboncengku dengan payah. Sebab tubuhnya yang lumayan besar. Terus menggoes. Jarak antara desanya dan desaku bisa lebih dari berpuluh-puluh kilometer. Naik motor saja hampir 20 menitan. Lah,  naik sepeda..
Beberapa meter lagi kami tiba di rumahnya, tapi saat hendak melintasi jalan yang menurun, sepedanya malah meluncur cepat dan kami pun terjatuh. Hampir menabrak seorang bapak pula. Untungnya bapak itu tidak apa-apa, sepertinya bapak itu dari masjid karena sejadah dan kopiah nya masih bertengger di tempatnya masing-masing.
Kejadian itu harusnya membuatku menangis, ini malah tertawa bersama ibu sambil sedikit meringis. Setiba di rumahnya, lecet-lecet di kakiku langsung dibersihkan dan diobati. Peristiwa jumat siang itu hingga sekarang masih tersimpan rapi di dalam hati ini. Bukan hanya itu, di saat kedua orang tuaku sering meninggalkanku ke luar kota, ibulah yang menjagaku. Setiap sekolah dibawakan bekal nasi uduk olehnya, sedangkan anaknya yang bungsu (setahun lebih tua dariku) tidak. Itu sebabnya aku suka sekali dengan nasi uduk.
Kedekatan kami seperti ikatan kandung saja, meski pun beliau sering marah kalau aku dan kak Di (putra bungsunya) selalu ribut, atau saat aku  malas mencuci piring sewaktu di rumahnya. Tapi aku senang, punya dua ibu dan kakak, karena aku anak pertama dan adikku selalu diajak orang tuaku kalau mereka pergi. Kalau hari raya Idul Fitri, pasti dapat jatah darinya. Aku ingat betul saat beliau memberikan pakaian yang sama untukku, untuk adikku, dan untuk kak Di. Sepasang kaos bermotif garis-garis besar berwarna biru muda dan biru tua.
**
Bila melihat sepeda, aku teringat pada kejadian itu, teringat akan sayangnya beliau padaku. Jauh-jauh untuk menjemputku. Kenapa tidak menunggu ayah pulang kerja saja. Kala itu aku tidak berpikir kesana, hanya memikirkan kenapa orang tuaku yang selalu pergi. Semakin teringat, perlahan membuatku paham.
Memang dulu aku sempat membenci orang tua kandungku karena seringnya mereka meninggalkanku sendirian. Itu beralasan karena memang ada hal penting yang harus mereka kerjakan hingga mereka seperti itu. Dengan begitu juga aku jadi punya keluarga lagi. Ibu Fatimah juga ibuku meski aku tidak keluar dari rahimnya. Selain itu aku jadi sedikit lebih mandiri, tidak merasa galau disaat orang-orang terdekatku jauh dariku meski pun sangat sulit ku lalui pada awalnya.
Semua hal memberi pelajaran yang berarti. Peristiwa sepeda itu selalu ku kenang, bahwa betapa sayangnya dirimu padaku walau aku bukanlah darah dagingmu. Aku berharap pada Sang Pemilik Jiwa, agar dirimu bahagia dan tentram di sisi-NYA, ku kenang dirimu ibu dalam doaku sebab aku tak dapat melihat senyummu lagi.
 Alhamdulillah Ya Allah.. Engkau memberiku dua sosok ibu yang hebat dalam kehidupanku. Terima kasih emak, terima kasih ibu. Semoga emak selalu dilimpahkan kesehatan. Aamiin Ya Robbal ‘Alamin..



Tidak ada komentar:

Posting Komentar