Bersama
dalam dekapan sang bunda adalah anugerah terindah. Lebih indah lagi ketika aku
memiliki bunda kedua, bukan ibu tiri lho tetapi ibu angkat. Dalam kesempatan
ini aku akan menggoreskan tinta kerinduanku kepada sang bunda kedua. Lalu, bunda
kandungku? Insya Allah, aku sudah menyiapkan sesuatu yang indah untuknya.
Semoga engkau bahagia dan nantikan karya anakmu ini -bunda- emakku tersayang.
**
Fatimah
adalah bunda keduaku alias ibu. Sebelumnya kami hanya tetangga, namun
lama-kelamaan ikatan ini seperti keluarga kandung. Sebab tidak ada sanak saudara
di tempat kami berada, maka jadilah kami keluarga baru. Setiap hari aku selalu
bermain di rumahnya, itu sebelum keluargaku pindah ke desa seberang. Biarpun
begitu, keluarganya sering berkunjung ke rumah kami. Hal yang paling membuatku
senang kala itu adalah ketika mereka membawa buah tangan yang enak-enak
(hehe…namanya juga anak kecil).
Suatu
hari kedua orang tuaku pergi meninggalkanku sendiri, hal yang sangat aku benci.
Mereka ke luar kota
sementara aku masih sekolah. “Aku tahu mereka akan pergi tapi mengapa
tidak menungguku pulang dulu,” hanya jeritanku dalam hati. Kondisi di dalam
rumah lengang, suasana hatiku pun kacau. Begitu sampai di kamar, bantal dan
guling aku lempar-lemparkan ke atas kasur dan menangis sepuasnya karena aku
kesal saat itu.
Di
tengah tangis yang sesegukan, aku mendengar suara yang sangat familiar.
Cepat-cepat ku keringkan air mata dengan pakaian sekolah yang serba
acak-acakan. Ternyata ibu sudah di depan pintu. Melihat diriku yang berantakan,
ibu segera mengajakku pulang ke rumahnya, aku menurut. Aku tidak melihat ayah
atau pun motornya, hanya sepeda butut yang disandarkan di tembok rumah. “Naik sepeda?” aku heran.
Siang
yang terik tak menyurutkan kakinya untuk menggoes sepeda itu, aku hanya diam
melihatnya memboncengku dengan payah. Sebab tubuhnya yang lumayan besar. Terus
menggoes. Jarak antara desanya dan desaku bisa lebih dari berpuluh-puluh
kilometer. Naik motor saja hampir 20 menitan. Lah, naik sepeda..
Beberapa
meter lagi kami tiba di rumahnya, tapi saat hendak melintasi jalan yang menurun,
sepedanya malah meluncur cepat dan kami pun terjatuh. Hampir menabrak seorang
bapak pula. Untungnya bapak itu tidak apa-apa, sepertinya bapak itu dari masjid
karena sejadah dan kopiah nya masih bertengger di tempatnya masing-masing.
Kejadian
itu harusnya membuatku menangis, ini malah tertawa bersama ibu sambil sedikit
meringis. Setiba di rumahnya, lecet-lecet di kakiku langsung dibersihkan dan
diobati. Peristiwa jumat siang itu hingga sekarang masih tersimpan rapi di
dalam hati ini. Bukan hanya itu, di saat kedua orang tuaku sering
meninggalkanku ke luar kota,
ibulah yang menjagaku. Setiap sekolah dibawakan bekal nasi uduk olehnya,
sedangkan anaknya yang bungsu (setahun lebih tua dariku) tidak. Itu sebabnya
aku suka sekali dengan nasi uduk.
Kedekatan
kami seperti ikatan kandung saja, meski pun beliau sering marah kalau aku dan
kak Di (putra bungsunya) selalu ribut, atau saat aku malas mencuci piring sewaktu di rumahnya. Tapi
aku senang, punya dua ibu dan kakak, karena aku anak pertama dan adikku selalu
diajak orang tuaku kalau mereka pergi. Kalau hari raya Idul Fitri, pasti dapat
jatah darinya. Aku ingat betul saat beliau memberikan pakaian yang sama
untukku, untuk adikku, dan untuk kak Di. Sepasang kaos bermotif garis-garis
besar berwarna biru muda dan biru tua.
**
Bila
melihat sepeda, aku teringat pada kejadian itu, teringat akan sayangnya beliau
padaku. Jauh-jauh untuk menjemputku. Kenapa tidak menunggu ayah pulang kerja
saja. Kala itu aku tidak berpikir kesana, hanya memikirkan kenapa orang tuaku
yang selalu pergi. Semakin teringat, perlahan membuatku paham.
Memang
dulu aku sempat membenci orang tua kandungku karena seringnya mereka meninggalkanku
sendirian. Itu beralasan karena memang ada hal penting yang harus mereka
kerjakan hingga mereka seperti itu. Dengan begitu juga aku jadi punya keluarga
lagi. Ibu Fatimah juga ibuku meski aku tidak keluar dari rahimnya. Selain itu
aku jadi sedikit lebih mandiri, tidak merasa galau disaat orang-orang
terdekatku jauh dariku meski pun sangat sulit ku lalui pada awalnya.
Semua
hal memberi pelajaran yang berarti. Peristiwa sepeda itu selalu ku kenang,
bahwa betapa sayangnya dirimu padaku walau aku bukanlah darah dagingmu. Aku
berharap pada Sang Pemilik Jiwa, agar dirimu bahagia dan tentram di sisi-NYA,
ku kenang dirimu ibu dalam doaku sebab aku tak dapat melihat senyummu lagi.
Alhamdulillah Ya Allah.. Engkau memberiku dua
sosok ibu yang hebat dalam kehidupanku. Terima kasih emak, terima kasih ibu.
Semoga emak selalu dilimpahkan kesehatan. Aamiin Ya Robbal ‘Alamin..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar