“Pendidikan kesehatan
reproduksi, bagaimana melindungi diri sendiri. Menghormati kehidupan
yang paling penting sebenarnya”, terang Menkes.
Pada video berdurasi 5 menit, 14 detik yang diunggah oleh akun
Sehatnegeriku milik Pusat Komunikasi pada Rabu, 20 Juni 2012 pukul 19.23
WIB tersebut Menkes menyatakan Kementerian Kesehatan tidak akan
membagi-bagikan k***** gratis pada masyarakat umum. Bagi mereka yang
berisiko, pendidikan kesehatan reproduksi merupakan solusi utama untuk
pencegahan penularan infeksi HIV/AIDS. Pada kesempatan
tersebut, Menkes juga menyampaikan apresiasi kepada masyarakat yang
memberikan perhatian terhadap isu tersebut. Menkes juga mengajak
seluruh masyarakat memperkokoh iman agar tidak tergoda untuk melakukan
perilaku seks berisiko.
“Ini gerakan kita bersama untuk melindungi generasi muda kita baik dari penyakit maupun dari kehamilan yang tidak direncanakan”, tandas Menkes.
“Ini gerakan kita bersama untuk melindungi generasi muda kita baik dari penyakit maupun dari kehamilan yang tidak direncanakan”, tandas Menkes.
Dikutip dari website Kementerian Kesehatan Republik Indonesia / www.depkes.go.id
Opini masyarakat mengenai pembagian k***** yang dipromosikan oleh Menteri Kesehatan RI tersebut menuai banyak tanggapan dari berbagai kalangan. Entah itu dari pejabat, pebisnis, pegawai, pelajar, hingga ke pemulung, menyampaikan pandangan mereka mengenai perihal tersebut. Tanda tanya yang masih bersarang di dalam benak ini adalah, kenapa harus benda itu (k*****)? Apakah beliau terlalu pusing dengan kondisi penduduk Indonesia saat ini? Ataukah ada suatu hal sehingga beliau mengambil tindakan kejam seperti itu? Mungkin hanya beliau dan orang-orang sekitarnya saja yang paham benar apa maksud dari tindakannya.
Kita sebagai warga masyarakatnya hanya bisa berpendapat. Tentunya pendapat di antara kita pula berbeda. Meskipun demikian, menjadi tanggung jawab kita bersama untuk bisa semaksimal mungkin meminimalisir perzinahan yang terjadi.
Ada beberapa hal yang mempengaruhi terjadinya perzinaan, di antaranya:
1. menjamurnya media
2. kurangnya perhatian
3. kondisi lingkungan yang kurang sehat
^^
Menjamurnya Media
Media ibarat sandang pangan yang dibutuhkan para individu saat ini. Berkembangnya media elektronik yang menyajikan berbagai informasi, dan media massa yang kisruh pada polemik di setiap wilayah RI. Belum lagi aneka media sosial yang makin marak saat ini. Perkembangan perputaran media juga membangkitkan individu menjadi konsumtif terhadap apapun yang bahkan itu (sesungguhnya) tidak diperlukan.
Ada baiknya penggunaan media tersebut digunakan secara proporsional. Dalam artian, menggunakan sesuai yang dibutuhkan. Terkadang mata ini silau akan gemerlapnya kehidupan duniawi. Masing-masing individu berlomba-lomba memenuhi kebutuhan yang sepertinya tidak ada akhirnya. Segala cara ditempuh, entah itu baik ataukah buruk bagi dirinya dan juga orang lain.
Informasi yang disuguhkan memang beragam, tetapi kita telah dianugerahi akal yang baik untuk menyaring segala informasi yang ada. Tidak semuanya dapat diterima, juga tidak semuanya tertolak begitu saja. Maka, mulailah dari saat ini juga untuk menyaring semua informasi yang diperoleh dari mana pun sumbernya. Membiasakan diri untuk membaca dan mendengarkan sesuatu yang baik, sehingga pikiran ini tidak terpengaruh oleh virus negatif.
Kurangnya Perhatian
Orang tua adalah pendidik pertama untuk sang anak. Sebelum sang anak sekolah dan bercengkerama dengan lingkungannya, orang tualah yang membentuk awal karakter sang anak. Bagaimana sang anak bersikap, bagaimana sifatnya, mulanya ditentukan pada masa kanak-kanak. Saya hanya menebak, sebab itu yang terjadi di kehidupan yang saya dan sebagian teman-teman alami. Ditambah dengan beberapa referensi yang dibaca.
Ketika peran orang tua tidak memenuhi kebutuhan sang anak, sang anak beralih pada sesuatu yang sekiranya dapat memenuhi kebutuhan dirinya. Kebutuhan yang dimaksud bukan hanya kebutuhan materi, melainkan kebutuhan secara spiritual. Motivasi, semangat, empati, kasih sayang dan cinta, itu yang diperlukan.
Bila orang tua selalu mengandalkan materi, selalu memuaskan diri dengan materi, maka sang anak akan berpikir 'materi dan materi'. Tak jarang juga ditemukan kisah keluarga yang serba kekurangan (materi) namun hidupnya bahagia. Kenapa? Karena ketulusan cinta dan sayangnya kepada sang anak, sehingga akhirnya menumbuhkan cinta pula pada diri sang anak. Individu yang hatinya penuh rasa cinta yang tulus, tidak akan pernah menzalimi orang lain.
Kondisi Lingkungan
Ini juga yang sangat berpengaruh pada kehidupan manusia. Manusia adalah makhluk sosial, yang pasti akan membutuhkan keberadaan orang lain. Sekolah, kampus, tempat kerja, tempat tinggal, di mana pun kita berada tidak bisa jika kita hidup seorang diri. Bukankah Allah Subhanallahuwata'ala memerintahkan kita untuk berhubungan dengan manusia lainnya?
Namun, kita harus jeli dalam memilih dan memilah lingkungan. Lingkungan yang menjadi sarana kita dalam berteman (bersosialisasi), maka selektiflah dalam berteman. Sebab temanmu dapat menjadi kunci kesuksesan atau kegagalanmu.
Perzinahan tidak akan terjadi selama kita dapat menghalangi pintu masuknya. Pintu masuk bisa dari mana saja, seperti dari internet (semua situs bisa ditelusuri), televisi (tayangan-tayangan film/sinetron yang kurang diperhatikan dalam penyensorannya), teman jalan.
Pemberian k****** tidak dapat menyelesaikan masalah, bahkan akan memperpanjang masalah sebab masalahnya jadi tertunda. Ketika sudah terlanjur, ada yang mengambil jalan pintas yaitu dengan mengaborsikan janinnya. Entah bagaimana akan mempertanggung-jawabkan tindakannya tersebut.
Ingatlah. Kita terlahir sebagai manusia.
Siapa yang menciptakan kita?
Setiap tindakan memiliki konsekuensi yang haru ditebus. Pilihlah jalan yang benar. Sesungguhnya fitrah manusia akan tunduk pada kebenaran Allah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar