REPUBLIKA.CO.ID, BANYUMAS -- Perajin tahu dan tempe di wilayah Kabupaten
Banyumas, saat ini sedang kelimpungan. Hal ini menyusul melonjaknya
harga kedelai yang mencapai lebih dari 15 persen sejak sepuluh hari
terakhir. ''Kedelai yang tadinya hanya seharga Rp 5.600 hingga Rp 6.000 per kg,
kini menjadi Rp 6.800 hingga Rp 7.000. Kenaikan harga ini benar-benar
menyulitkan kami,'' kata Purwanto (42), seorang perajin tahu di Desa
Kalisari Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas, Rabu (9/5). Purwanto
menyebutkan, harga kedelai yang mengalami kenaikan adalah kedelai yang
diimpor dari AS. Kebanyakan perajin tahu dan tempe memang menggunakan
bahan baku kedelai impor, karena tahu dan tempe yang dihasilkan memang
menjadi lebih baik. ''Kalau menggunakan kedelai lokal, jumlah tahu yang
dihasilkan hanya sedikit daripada kalau menggunakan kedelai impor,''
jelasnya.
Jadi penasaran, bukan pada melonjaknya harga impor, melainkan kenapa perajin kedelai justru mengimpor kedelai dari luar Indonesia. Apakah para petani kedelai di Indonesia sudah tidak mencukupi lagi sehingga harus mengimpor dari luar? Atau hanya karena mengukur kuantitas produksi?
Yah, apa pun alasan dan latar belakangnya, semoga itu tidak menambah keruwetan yang ada. Semoga para petani Indonesia dimudahkan dalam menanam dan memroduksi kedelai yang baik. Bahkan jauh lebih baik dari kedelai impor luar sana, jauh lebih aman. insya Allah..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar