Ku lihat mentari di pagi ini, sepertinya ia tidak malu lagi untuk
menunjukkan kelebihan yang dimilikinya. Ia tampak berbinar saat
langit-langit dan awan membujuknya untuk tak terlihat. Mendung, suram,
tanpa ada cahaya yang melingkupinya. Kemudian terdiam dalam lamunan
siang yang kian waktu kian memanas. Namun, mentari tak singgah dari
peraduannya untuk tetap bertahan pada apa yang menjadi kekuatannya.
Itulah
si mentari, yang sama halnya seperti kita (hamba Allah SWT_manusia).
Terkadang ia redup tak bercahaya oleh sesuatu yang tidak disenangi atau
sesuatu yang tidak diharapkannya. Di lain waktu pun, ia bersinar dengan
terangnya_gemilang seperti bintang terang di malam hari, oleh prestasi
yang didapatkannya.
Bila ia redup namun tidak padam, apakah ia tetap
disebut sebagai mentari? Karena sepengetahuan saya, mentari itu selalu
yang bersinar, bercahaya, penuh dengan aura semangat. Tapi lagi-lagi,
pengetahuan tidaklah sama terhadap apa yang dipikirkan. Jadi, akan wajar
bila saya tetap menyebut mentari walau ia sedang tidak bersinar.
Seandainya
mentari selalu bisa tersenyum, selalu menebarkan butir-butir semangat,
dan tidak akan pernah mendung. Pasti dunia ini akan damai, sedikit.
Ya... itulah kebesaran Sang Pencipta dengan segala ke-Mahabesarannya.
Ada gula pasti ada.. Ada suka selalu ada duka.. Ada menangis ada pula tertawa..
Jadi.. dunia ini penuh dengan keada-adaan. keada-adaan yang telah ada dan selalu ada.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar