Minggu, 01 Juli 2012

selalu ada

Ku lihat mentari di pagi ini, sepertinya ia tidak malu lagi untuk menunjukkan kelebihan yang dimilikinya. Ia tampak berbinar saat langit-langit dan awan membujuknya untuk tak terlihat. Mendung, suram, tanpa ada cahaya yang melingkupinya. Kemudian terdiam dalam lamunan siang yang kian waktu kian memanas. Namun, mentari tak singgah dari peraduannya untuk tetap bertahan pada apa yang menjadi kekuatannya.

Itulah si mentari, yang sama halnya seperti kita (hamba Allah SWT_manusia). Terkadang ia redup tak bercahaya oleh sesuatu yang tidak disenangi atau sesuatu yang tidak diharapkannya. Di lain waktu pun, ia bersinar dengan terangnya_gemilang seperti bintang terang di malam hari, oleh prestasi yang didapatkannya.
Bila ia redup namun tidak padam, apakah ia tetap disebut sebagai mentari? Karena sepengetahuan saya, mentari itu selalu yang bersinar, bercahaya, penuh dengan aura semangat. Tapi lagi-lagi, pengetahuan tidaklah sama terhadap apa yang dipikirkan. Jadi, akan wajar bila saya tetap menyebut mentari walau ia sedang tidak bersinar.

Seandainya mentari selalu bisa tersenyum, selalu menebarkan butir-butir semangat, dan tidak akan pernah mendung. Pasti dunia ini akan damai, sedikit. Ya... itulah kebesaran Sang Pencipta dengan segala ke-Mahabesarannya.

Ada gula pasti ada.. Ada suka selalu ada duka.. Ada menangis ada pula tertawa..
Jadi.. dunia ini penuh dengan keada-adaan. keada-adaan yang telah ada dan selalu ada.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar