Setiap orang pasti berusaha untuk menjaga dan mengangkat harkat dan
martabatnya. Ia tidak rela untuk disingkap aib-aibnya atau pun
dibeberkan kejelekannya. Karena hal ini dapat menjatuhkan dan merusak
harkat dan martabatnya di hadapan orang lain.
“Setiap Muslim terhadap Muslim lain nya diharamkan darahnya, kehormatannya, dan juga hartanya.” (HR Muslim).
Hadis
ini menjelaskan kepada kita tentang eratnya hubungan persaudaraan dan
kasih sayang sesama Muslim. Bahwa setiap Muslim diharamkan menumpahkan
darah (membunuh) dan merampas harta saudaranya seiman.
Demikian
pula setiap Muslim diharamkan melakukan perbuatan yang dapat
menjatuhkan, meremehkan, ataupun merusak kehormatan saudaranya. Karena,
tidak ada seorang pun yang sempurna dan ma’shum (terjaga dari kesalahan) kecuali para nabi dan rasul. Sedangkan kita, tidak lepas dari kekurangan dan kelemahan.
Di
bulan penuh rahmat ini, hal yang sangat disayangkan, media-media kita
masih asyik pada tayangan-tayangan seperti ini. Tayangan gosip yang
mereka perhalus dengan sebutan infotainment ini masih tersaji dengan tanpa tedeng aling-aling dan tanpa merasa berdosa.
Bukankah
tayangan picisan ini hanya akan menjadikan tersingkap dan tersebar aib
seseorang, yang pada gilirannya akan menjatuhkan dan merusak harkat dan
martabatnya.
“Apakah kalian mengetahui apa itu ghibah?” tanya Rasul kepada para sahabatnya.
“Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu,” jawab mereka.
Sabda Rasul, “Engkau
menyebutkan sesuatu yang ada pada saudaramu yang dia membencinya, jika
yang engkau sebutkan tadi benar-benar ada pada saudaramu, sungguh engkau
telah berbuat ghibah, sedangkan jika itu tidak benar maka engkau telah
membuat kedustaan (fitnah) atasnya.” (HR Muslim).
Aisyah RA pernah berkata kepada Rasulullah tentang Shafiyyah bahwa dia adalah wanita yang pendek. “Sungguh
engkau telah berkata dengan suatu kalimat yang kalau seandainya
dicampur dengan air laut niscaya akan mengubah air laut itu,” jawab Rasul tidak suka. (HR Abu Dawud).
Sekadar
menggambarkan bentuk tubuh seseorang saja sudah mendapat teguran keras
dari Rasulullah SAW, lalu bagaimana dengan menyebutkan sesuatu yang
lebih keji dari itu?
Dari sahabat Anas bin Malik RA, Rasulullah SAW bersabda, “Ketika
aku mikraj (naik di langit), aku melewati suatu kaum yang kuku-kukunya
dari tembaga dalam keadaan mencakar wajah-wajah dan dada-dadanya. Lalu
aku bertanya, “Siapakah mereka itu wahai Jibril?” Malaikat Jibril
menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang memakan daging-daging manusia
dan merusak kehormatannya.” (HR Abu Dawud).
Yang dimaksud dengan ‘memakan daging-daging manusia’ dalam hadis ini adalah ghibah atau bergosip. “Hai
orang-orang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka (kecurigaan),
karena sebagian prasangka adalah dosa; janganlah mencari-cari keburukan
orang, dan jangan menggunjing satu sama lain. Adakah seorang di antara
kamu suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka, tentulah kamu
merasa jijik terhadapnya...” (QS. Al-Hujurat [49]: 12).
oleh: M. Arifin Ilham

Tidak ada komentar:
Posting Komentar