Minggu, 29 Juli 2012

Sepeda Butut




Bersama dalam dekapan sang bunda adalah anugerah terindah. Lebih indah lagi ketika aku memiliki bunda kedua, bukan ibu tiri lho tetapi ibu angkat. Dalam kesempatan ini aku akan menggoreskan tinta kerinduanku kepada sang bunda kedua. Lalu, bunda kandungku? Insya Allah, aku sudah menyiapkan sesuatu yang indah untuknya. Semoga engkau bahagia dan nantikan karya anakmu ini -bunda- emakku tersayang.
**
Fatimah adalah bunda keduaku alias ibu. Sebelumnya kami hanya tetangga, namun lama-kelamaan ikatan ini seperti keluarga kandung. Sebab tidak ada sanak saudara di tempat kami berada, maka jadilah kami keluarga baru. Setiap hari aku selalu bermain di rumahnya, itu sebelum keluargaku pindah ke desa seberang. Biarpun begitu, keluarganya sering berkunjung ke rumah kami. Hal yang paling membuatku senang kala itu adalah ketika mereka membawa buah tangan yang enak-enak (hehe…namanya juga anak kecil).
Suatu hari kedua orang tuaku pergi meninggalkanku sendiri, hal yang sangat aku benci. Mereka ke luar kota sementara aku  masih sekolah. “Aku tahu mereka akan pergi tapi mengapa tidak menungguku pulang dulu,” hanya jeritanku dalam hati. Kondisi di dalam rumah lengang, suasana hatiku pun kacau. Begitu sampai di kamar, bantal dan guling aku lempar-lemparkan ke atas kasur dan menangis sepuasnya karena aku kesal saat itu.
Di tengah tangis yang sesegukan, aku mendengar suara yang sangat familiar. Cepat-cepat ku keringkan air mata dengan pakaian sekolah yang serba acak-acakan. Ternyata ibu sudah di depan pintu. Melihat diriku yang berantakan, ibu segera mengajakku pulang ke rumahnya, aku menurut. Aku tidak melihat ayah atau pun motornya, hanya sepeda butut yang disandarkan di tembok rumah. “Naik sepeda?” aku heran.
Siang yang terik tak menyurutkan kakinya untuk menggoes sepeda itu, aku hanya diam melihatnya memboncengku dengan payah. Sebab tubuhnya yang lumayan besar. Terus menggoes. Jarak antara desanya dan desaku bisa lebih dari berpuluh-puluh kilometer. Naik motor saja hampir 20 menitan. Lah,  naik sepeda..
Beberapa meter lagi kami tiba di rumahnya, tapi saat hendak melintasi jalan yang menurun, sepedanya malah meluncur cepat dan kami pun terjatuh. Hampir menabrak seorang bapak pula. Untungnya bapak itu tidak apa-apa, sepertinya bapak itu dari masjid karena sejadah dan kopiah nya masih bertengger di tempatnya masing-masing.
Kejadian itu harusnya membuatku menangis, ini malah tertawa bersama ibu sambil sedikit meringis. Setiba di rumahnya, lecet-lecet di kakiku langsung dibersihkan dan diobati. Peristiwa jumat siang itu hingga sekarang masih tersimpan rapi di dalam hati ini. Bukan hanya itu, di saat kedua orang tuaku sering meninggalkanku ke luar kota, ibulah yang menjagaku. Setiap sekolah dibawakan bekal nasi uduk olehnya, sedangkan anaknya yang bungsu (setahun lebih tua dariku) tidak. Itu sebabnya aku suka sekali dengan nasi uduk.
Kedekatan kami seperti ikatan kandung saja, meski pun beliau sering marah kalau aku dan kak Di (putra bungsunya) selalu ribut, atau saat aku  malas mencuci piring sewaktu di rumahnya. Tapi aku senang, punya dua ibu dan kakak, karena aku anak pertama dan adikku selalu diajak orang tuaku kalau mereka pergi. Kalau hari raya Idul Fitri, pasti dapat jatah darinya. Aku ingat betul saat beliau memberikan pakaian yang sama untukku, untuk adikku, dan untuk kak Di. Sepasang kaos bermotif garis-garis besar berwarna biru muda dan biru tua.
**
Bila melihat sepeda, aku teringat pada kejadian itu, teringat akan sayangnya beliau padaku. Jauh-jauh untuk menjemputku. Kenapa tidak menunggu ayah pulang kerja saja. Kala itu aku tidak berpikir kesana, hanya memikirkan kenapa orang tuaku yang selalu pergi. Semakin teringat, perlahan membuatku paham.
Memang dulu aku sempat membenci orang tua kandungku karena seringnya mereka meninggalkanku sendirian. Itu beralasan karena memang ada hal penting yang harus mereka kerjakan hingga mereka seperti itu. Dengan begitu juga aku jadi punya keluarga lagi. Ibu Fatimah juga ibuku meski aku tidak keluar dari rahimnya. Selain itu aku jadi sedikit lebih mandiri, tidak merasa galau disaat orang-orang terdekatku jauh dariku meski pun sangat sulit ku lalui pada awalnya.
Semua hal memberi pelajaran yang berarti. Peristiwa sepeda itu selalu ku kenang, bahwa betapa sayangnya dirimu padaku walau aku bukanlah darah dagingmu. Aku berharap pada Sang Pemilik Jiwa, agar dirimu bahagia dan tentram di sisi-NYA, ku kenang dirimu ibu dalam doaku sebab aku tak dapat melihat senyummu lagi.
 Alhamdulillah Ya Allah.. Engkau memberiku dua sosok ibu yang hebat dalam kehidupanku. Terima kasih emak, terima kasih ibu. Semoga emak selalu dilimpahkan kesehatan. Aamiin Ya Robbal ‘Alamin..



Ideal-ku Bukan Sempurna



Sebenarnya apa yang aku pikirkan kala itu bukanlah sesuatu yang “wah” bagi kehidupanku saat ini, dampaknya sungguh luar biasa. Tidak ada kata ‘mengapa’ setelah mengambil jurusan yang bagiku sangat asing, yang ada hanyalah ‘ingin tahu’ (apa) dari apa yang aku baca. 
 
Keluar dari sekolah umum kemudian langsung melanjutkan ke Perguruan Tinggi yang kental dengan nuansa keislamannya, membuat diri ini mindernya bukan main. Membaca nama-nama jurusan yang tertera pada brosur itu saja sama sekali tidak aku pahami.  Jadi, aku lebih memilih jurusan tersebut karena menurutku mudah dipahami (praduga semata) karena tidak menggunakan bahasa Arab.
Memasuki dunia kampus tentu memiliki penyeleksian terlebih dahulu. Pihak kampus tidak mau tahu, apakah calon mahasiswanya tersebut berasal dari yang berlatar belakang Agama ataukah yang umum. Semua sama dan kami harus mengikuti peraturan mereka. Dengan ilmu yang sangat pas-pasan ini tetap saja aku paksakan diri untuk melanjutkan tahap seleksi itu, bermodal keyakinan diri saja. 
Akhirnya aku pun diterima, dan menjadi mahasiswa adalah hal baru bagiku. Semoga pencerahan menyelimuti raga ini. Mungkin, aku ini tipe orang yang tertutup sebab seorang sahabatku pernah mengatakan bahwa aku seperti itu. Untuk memulakan sesuatu yang baru, maka aku mencoba untuk membuka diri dan menerima siapa pun sebagai temanku nantinya. Sahabat SMA-ku lah yang mengenalkanku pada Islam pertama kalinya. Islam yang sesungguhnya dan bukan hanya sebagai cap semata. Sejak itu aku bertekad pada diri sendiri akan mengubah diri menjadi lebih baik dan bermanfaat tentunya. Dia akan selalu ada, tersimpan dalam hati ini, sebagai saudara yang paling berharga untukku.
 
Memang sulit untuk segala permulaan tapi akan menjadi lebih mudah ketika diri benar-benar ‘mau’ melakukannya. Mendapatkan teman di sana pun mudah, asalkan diri mau berbagi dan mau menerima mereka. Di awal-awal perkuliahan belum aku dapati sesuatu yang spesial. Masih mengikuti alur yang berlalu cepat.
~~
 Tahun berganti, tingkatan semester pun kian bertambah. Otakku berputar-putar, mulai mencari tahu apa yang sebenarnya harus aku dapatkan dari ini semua. Melihat terman-teman yang meninggalkan kandang alias pindah kuliah, membuat sebagian teman yang lain ingin mengikutinya pula. Ada semacam rasa dikucilkan oleh mahasiswa dari fakultas lain karena jumlah kami yang makin menyusut. Para dosen juga demikian. Kini bukan ‘ingin tahu’ lagi, melainkan menjadi ‘mengapa’ dan ‘bagaimana’ menjamur di otak ini. Ya, seperti itulah yang ada dipikirkan oleh akalku.
            Hingga akhirnya yang bertahan di sana hanya dua orang saja yang sejawatan. Namun ini bukanlah suatu akhir. Kami bisa lebih dekat dengan para dosen, saling mendukung dan memotivasi dengan mahasiswa se-fakultas. Tidak sedikit juga yang memandang kami dengan sinis atau yang merendahkan. Bagiku, inilah hal yang paling menarik dan terserah apapun asumsi orang lain terhadap tempat pembelajaranku. 
Hampir tiga semester berturut-turut aku mendapatkan dosen yang sama untuk mata kuliah yang berbeda. Karenanya aku sedikit tertarik (pada cara berpikirnya) pada sosok pendidik yang agak menyeramkan itu. Kemampuanku untuk menilai seseorang kadang tepat meskipun sering melesetnya juga dari perkiraanku. Semua pembelajaran terbaruku. 
Masing-masing pendidik memiliki kemampuan dan karakternya tersediri, sehingga metode yang digunakan pun banyak yang berbeda. Aku masih memilah dan memilih, dosen atau guru manakah yang tepat aku jadikan sebagai panutan. Seorang guru yang ideal.
Aqidah Filsafat adalah jurusan pilihan hatiku, tidak ada intervensi dari pihak mana pun. Dengan jumlah yang minim ini (dua orang) ada beberapa dosen dan mahasiswa lain mudah mengenali kami. Sebagian dosen ada yang membagi perhatiannya pada kami, meski sekadar penggugur kewajiban mereka untuk mendidik kami. Aku tetap optimis, bahwa ada dosen yang benar-benar peduli pada mahasiswanya. Sebab tidak jarang pula ada sebagian dari mereka yang mengacuhkan para mahasiswanya.
Aku tahu kalau sistem pembelajarannya bukanlah seperti disaat sekolah dulu. Justru mahasiswa dituntut untuk aktif sendiri. Dosen atau guru hanya memberi petunjuk dan mahasiswa harus menggali serta mengembangkan materi yang telah ditentukannya. Tetapi aku tidak ingin seperti itu. Setidaknya mereka mau membimbing kami dalam menafsirkan materi-materi yang telah diberikan.
Mahasiswa tidak sesempurna yang diharapkan meski pun secara pemikiran sedikit lebih matang. Dosen itu penting, sebagai pembimbing dan pendidik terlepas dari bagaimana cara mereka mendidik. Jika seseorang dilepaskan begitu saja mungkin pembelajaran yang didapat bisa komplit. Namun agar pemikirannya lebih terarah maka peranan sang dosen menjadi pertimbangan yang besar.
~~
  Setelah berlalu empat semester, Allah mengabulkan permintaanku mengenai dosen yang ideal. ideal dalam artian, peduli dan bersedia membimbing mahasiswanya. Sosok yang menyeramkan itu tetap melekat pada dirinya, tetapi aku sangat apresiatif pada pemikirannya. Beliau adalah salah satu dosen Filsafat di fakultasku. 
  Mr. Suf, panggilan yang aku sematkan untuk dosenku tersebut. Cara mengajarnya yang unik, dengan memberi sedikit materi lalu beliau mengajak kami untuk mengolah pemikiran kami. Selalu diperintahkan untuk membaca dan terus membaca. Walau aku terkadang sangat jemu untuk membaca teori-teori itu, berkilah adalah andalanku. Kadang juga beliau marah dan kesal pada kami berdua karena tidak mau berpikir, aku malah menikmatinya. Apa yang salah denganku? Entahlah.
  Aku suka membaca, bukanlah sebagai hobi tetapi itu sudah kebutuhanku. Bagaimana bisa aku berpikir kalau tidak diawali dengan membaca. Mungkin karena itulah Mr. Suf tidak pernah bosan untuk terus mengajak dan memerintahkan kami. Membaca pemikiran seseorang ternyata lebih sulit daripada membaca novel atau buku-buku sejenisnya. Karena harus memahami dengan benar alur pemikiran dan menafsirkannya dari sudut pandang kami sendiri. Bila benar-benar terpaksa maka harus dipaksakan untuk membaca pemikiran-pemikiran yang rumit itu.
Berbeda halnya bila membaca karya nonfiksi seperti cerpen, tinggal mengikuti alur cerita yang disediakan dan bahasanya pun cenderung lebih sederhana. Lain lagi dengan novel, yang membutuhkan kefokusan tersendiri sebab bila tidak, maka akan bingung sendiri dalam menyimpulkan cerita tersebut. Dan itu yang lebih ku sukai. 
 Hal yang disukai Mr. Suf adalah berdiskusi. Tidak membaca sama artinya seperti berperang tanpa membawa senjata. Membaca di ruang kuliahnya tidak lagi hal yang wajib, tetapi sudah harus siap mental untuk beradu pemikiran. Bila ketahuan membaca ketika kuliah berlangsung atau bila tidak ada persiapan sebelum kuliah dimulai maka siap-siap saja mendapat ‘kuliah’ tambahan. 
Pernah suatu hari, beliau sangat marah pada kami karena sikap acuh kami yang enggan berdiskusi, beliau tidak mau masuk kuliah meski pun sebenarnya beliau ada di ruang jurusan. Untunglah itu hanya sementara saja. Aku benar-benar kapok dan tidak mau mengulanginya lagi. Bertindak seperti itu saja selama dua pertemuan, bisa hancur nilaiku. Jadi, aku harus bersusah payah membujuk diriku sendiri dan Zik (temanku) untuk mengikuti perintahnya selama itu baik bagi semua.
Dibalik sosok yang menyeramkan itu, ternyata beliau ramah juga. Malah sering bercanda dan tidak ada canggung sama sekali meledek kami berdua. Bila aku dan Zik tidak sedang bersama, beliau yang hanya menemui salah satu dari kami hanya bertanya “Mana kancil yang satunya?”, ya begitulah candanya. Aku pun cuma mesam-mesem kecut tiap mendengar pertanyaannya yang sama bila bertemu. Kancil. Kancil itu kan sifatnya pintar, lincah, dan juga cerdik, biarlah aku ambil positifnya saja. Tapi aku senang.
Begitu sumringahnya wajah Mr. Suf ketika mendapati kami semangat untuk berdiskusi. beliau makin bersemangat. Materi yang ia sampaikan tidak begitu berat, praktis dan sederhana. Namun setelah dijabarkan sedetail mungkin, bisa kurang waktu yang kami punya untuk membahasnya. Sebab di Aqidah Filsafat, kami digembleng seperti tentara. Tentunya bukan tentara sungguhan, ini tentara pikiran. Dari pola pikir, cara pandang, menyikapi sesuatu, atau menafsirkan pemikiran lain  pun, semua harus sesuai dengan kaidah berpikir ilmiah. Harapanku, Mr. Suf dapat membimbing kami hingga akhir.
~~
Aku sangat menikmati keberadaanku di jurusan tersebut. Mulai pedekate dengan buku-buku yang aduhai (memusingkan) serta teori-teori yang kadang di ambang batas nalar manusia. Semua dipelajari di sana. 
Hingga di saat satu semester (di pertengahan semester akhir) aku menemui sebuah hentakan yang luar biasa dari materi yang harus aku pelajari. Filsafat Ketuhanan itulah mata kuliah yang buat shock akalku. Berputar-putar pada satu teori dan mengelilingi beberapa teori yang tidak masuk di akalku. Karena tidak sedikit yang membahas tentang ‘seperti apa Tuhan itu’, atau ‘eksistensi Tuhan’, dan apa pun yang bersinggungan tentang ketuhanan. Aku benar-benar merasa ‘gila’ menemui pemikiran para tokoh tersebut. Pikiranku seperti komputer yang eror dan membuatku cukup kacau kala itu. Alhamdulillah.. puji syukur kepada Allah Subhanallahuwata’ala tidak henti-hentinya ku sematkan dalam hati ini. Kekacauan pada akal itu pun berakhir lebih cepat sebelum mata kuliah itu selesai.
Kita memang dianjurkan untuk membaca. Membaca pun universal maknanya, membaca buku atau pun keadaan sekitar beserta lingkungannya. Membaca tentang sesuatu yang berlawanan dari aqidah Islam sebenarnya tidak masalah, malah bisa dikatakan harus dilakukan. Sebab dengan begitu akan membuat kita bisa melihat dunia. Yang harus disikapi adalah bagaimana pemikiran kita bereaksi. Namun sebelum mencobanya kembali, keyakinanku pun harus diperkuat terlebih dahulu agar dapat menjadi benteng bagai diriku sendiri. Luar biasa efek pemikiran itu.
Betapa bahagianya aku ketika Mr. Suf ingin membimbing kami. Membimbing agar pemikiran ini tidak menyimpang dan memperoleh manfaat dari yang telah kami upayakan ini. “Kalian harus berpikir, karena Allah memerintahkan hambaNYA untuk berpikir (menggunakan akalnya)”, ucapannya yang masih mengiang-ngiang di pendengaranku. Ooh.. wajar saja bila beliau selalu memerintahkan kami untuk membaca dan berpikir. Banyak hal yang dapat dilakukan ketika kita mau menggunakan akal yang telah Tuhan berikan.
Mr. Suf adalah tipe orang yang kritis, terkadang cenderung skeptis terhadap sesuatu. Aku pernah suatu ketika melihatnya berdiri seorang diri di depan pintu ruang jurusan. Melihatnya dari balik kaca bening itu sangat jelas terekam olehku. Ada salah satu kelompok, semacam kelompok diskusi, berada tidak jauh dari pintu itu. Mr. Suf sambil memegang buku dan membuka-bukanya secara acak, ini terlihat dari gerakannya. Setelah beberapa menit aku mengamatinya, ternyata beliau sedikit mendekati kelompok tersebut. Sudah pasti beliau tidak mau bergabung sebab mereka para mahasiswi. Beliau sengaja merapat agar dapat menangkap apa yang sedang diperbincangkan oleh kelompok tersebut, ya mungkin hanya ingin tahu. Setelah beberapa saat beliau pun pergi. Guruku yang satu ini memang benar-benar penyuka mahasiswa yang aktif (berdiskusi).
~~
Menjelang akhir semester, masa paling sibuk menyiapkan pemikiran dalam bentuk karya nyata adalah hal mengasyikkan. Ssstt.. ada banyak cerita unik soalnya.
Barangkali harapku pada Mr. Suf agak berlebihan, karena aku menginginkan hal yang ideal darinya. Padahal beliau juga seorang manusia, tidaklah sempurna dan tak pernah luput dari kesalahan. Semula aku sangat simpati padanya karena pemikiran dan keinginannya untuk membimbing mahasiswanya begitu besar. Baru beliau yang hampir mendekati ‘ideal’-ku. Selanjutnya rasa simpati dan apresiatifku yang semula besar, hilang seketika.
Beberapa kali aku mempertimbangkan kembali soal ‘guru idealku’ itu. Lama kelamaan aku tidak menemukan lagi sinar terang dari seorang guru bernama Mr. Suf. Kekecewaan menderaku hingga aku merasa asing bila bertemu dengannya, meski pun sekadar bersapa-sapa saja. 
Aku yang salah. Kenapa aku begitu mudah mengharapkannya agar benar-benar ingin membimbing kami dengan tulus. Semua terangkum dalam jejakku di masa akhir kuliah. Dari awal mengajukan judul karya ilmiah hingga ujian akhir itu dilaksanakan. Hal yang paling membuatku kecewa adalah kenapa beliau begitu teganya mengeluarkan kata-kata yang tidak semestinya diucapkan oleh seorang guru kepada kami, saat ujian komprehensif. Aku tidak akan menuliskannya di sini karena itu tidak patut aku sampaikan, hanya akan membuat cedera pikirku saja.
Dari peristiwa itu, aku merasa asing pada sosok yang pernah aku harapkan. Dan beberapa kejadian yang sempat membuatku ingin berontak padanya secara terang-terangan. Namun semua itu hanya bisa aku simpan dalam hati. Aku tidak ingin menambah kacau keadaan yang sudah kacau itu. Biarlah. Itu pelajaran berharga untuk kehidupanku esok hari.
~~
Ilmu dan pengalaman yang luar biasa. Berada di tengah-tengah kepribadian yang majemuk begitu memperkaya diri ini. Meski di akhirnya harus kecewa pada yang ku anggap ideal, itu sebuah pengajaran. Memang tidak seharusnya berharap pada manusia yang sejatinya tidak sempurna, apalagi secara berlebih. Hal yang berlebihan itu akan membuat luka dan kecewa diri sendiri. Lebih baik berharap pada Robb Semesta Alam, tanpa meminta imbalan malah akan memberikan sesuatu yang lebih baik bila dari yang kita harap padaNYA.
Bisa jadi Mr. Suf berlaku demikian karena beliau sendiri terjebak dalam kubangan sistem yang salah. Jika seperti itu kebenarannya, aku bisa memakluminya. Dan memaafkannya adalah lebih baik untukku daripada terus memendam rasa benci kepadanya. Semoga aku tidak mengulanginya kembali. Hal yang aku anggap ideal belum tentu sempurna.
~~~
 

Kamis, 26 Juli 2012

Hanya........

Kedelai sudah seperti makanan pokok, tidak lengkap rasanya bila tidak ada tempe atau tahu di meja makan. Sekarang nampaknya harus menyisihkan uang lebih banyak agar dapat mengonsumsinya. Siapa yang tahu kalau harga kedelai akan melambung?

REPUBLIKA.CO.ID, BANYUMAS -- Perajin tahu dan tempe di wilayah Kabupaten Banyumas, saat ini sedang kelimpungan. Hal ini menyusul melonjaknya harga kedelai yang mencapai lebih dari 15 persen sejak sepuluh hari terakhir. ''Kedelai yang tadinya hanya seharga Rp 5.600 hingga Rp 6.000 per kg, kini menjadi Rp 6.800 hingga Rp 7.000. Kenaikan harga ini benar-benar menyulitkan kami,'' kata Purwanto (42), seorang perajin tahu di Desa Kalisari Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas, Rabu (9/5).  Purwanto menyebutkan, harga kedelai yang mengalami kenaikan adalah kedelai yang diimpor dari AS. Kebanyakan perajin tahu dan tempe memang menggunakan bahan baku kedelai impor, karena tahu dan tempe yang dihasilkan memang menjadi lebih baik. ''Kalau menggunakan kedelai lokal, jumlah tahu yang dihasilkan hanya sedikit daripada kalau menggunakan kedelai impor,'' jelasnya.

Jadi penasaran, bukan pada melonjaknya harga impor, melainkan kenapa perajin kedelai justru mengimpor kedelai dari luar Indonesia. Apakah para petani kedelai di Indonesia sudah tidak mencukupi lagi sehingga harus mengimpor dari luar? Atau hanya karena mengukur kuantitas produksi?

Yah, apa pun alasan dan latar belakangnya, semoga itu tidak menambah keruwetan yang ada. Semoga para petani Indonesia dimudahkan dalam menanam dan memroduksi kedelai yang baik. Bahkan jauh lebih baik dari kedelai impor luar sana, jauh lebih aman. insya Allah..


Rabu, 25 Juli 2012

[IM-HAN] Tintamu Menggenggam Dunia


Salam Anak Indonesia…

Apa kabarnya kalian di sana? Yang entah  di mana ketika engkau membaca surat ini. Lama sekali rasanya tidak menulis surat seperti ini. Terakhir berkirim surat ketika saya kelas 3 SMP, berkenalan dan berbagi pengalaman dengan sahabat pena yang baru dikenal. Rasanya seperti mendapatkan harta karun. Namun karena berkembangnya teknologi dan informasi, kegiatan menulis surat itu menjadi terhenti hingga sekarang :).

Nah, gara-gara dulu suka banget menulis surat. Saya malah ketagihan untuk menulis dan terus menulis, entah apa yang ditulis yang penting menulis saja. Jadi teringat masa lampau..

Oleh sebab itu, saya ingin mengajak teman-teman, adik-adik atau siapa pun untuk menulis. Menulis itu menyenangkan sekaligus dapat menjadi obat yang paling mujarab. Ketika kita melihat tulisan masa kecil dulu, kenangan itu dapat menjadi penghibur. Kita pun dapat melihat seperti apa diri kita yang dulu, melalui coretan-coretan mungil yang kita tuliskan.

Ada nilai tersendiri ketika kita benar-benar memaknai apa yang kita tuliskan. Jika engkau belum berminat atau sekadar ingin saja untuk menulis, itu tidak masalah. Engkau hanya perlu satu langkah lagi, yaitu mau mencoba dan terus mencoba. Bukankah ilmuwan terdahulu harus mencoba eksperimennya beberapa kali baru mereka berhasil menemukan formula yang baru, seperti terciptanya bohlam atau jam. Tinggal sebesar apa keinginan kita untuk maju dan berhasil.

Banyak hal yang akan kita dapatkan. Tetapi jangan mengharapkan banyak hal dari menulis, sebab kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi ke depan. Tulislah apa pun yang ingin kau sampaikan dari pikiranmu dan dari hatimu. Dan jangan pernah merasa sungkan untuk memulainya, bila engkau sungkan apalagi malas maka engkau tidak akan pernah berhasil. Nah, untuk bisa menulis itu modalnya gampang banget lho. Hanya kemauan yang kuat dan kuat membaca. Sebab membaca dapat memperkaya kosakata dan ilmu. Jadi tunggu apa lagi? Mulailah sekarang juga.. Pasti BISA!!

Terima kasih telah membaca coretan mini yang benar-benar mini ini. Semoga bermanfaat.

Untukmu, anak Indonesia, sukseslah selalu..
Tintamu menggenggam dunia



salam kenal dariku

Minggu, 22 Juli 2012

insya Allah

Ramadhan telah menampakkan kemuliaannya. Ramadhan memang penuh berkah. Alhamdulillah masih diizinkan untuk bertemu dengan Ramadhan kembali. Kenanganku pada Ramadhan tahun lalu pun menyelingi pikiranku saat ini.

Tahun lalu aku selalu bergelut pada kegiatan rumahan di tiap hariku, dari bangun tidur hingga beranjak ke tempat tidur lagi. Biar pun lisan orang lain terus berkata ini itu tentangku, yah pengangguran lah, atau apa lah.. Pusing juga kalau menggubris ucapan-ucapan mereka yang tak berdasar itu, malah bisa-bisa penyakit sudah ikutan nimbrung di badan.

Sebagai manusia yang berakal, aku memang merasa, amat merasa, tapi apa yang dirasa oleh orang lain tentang diriku? Hanya angin lalu. "Sudah sekolah tinggi-tinggi lah kok menganggur?" Ya ya ya dan bla bla bla... Aku percaya bahwa Allah akan tepati janjiNYA. Bukan sekarang, bisa jadi esok hari. Dan lihat saja apa yang akan terjadi selanjutnya.

Aku belajar bahwa hakekat dari menuntut ilmu itu adalah bagaimana kita memakai hidup ini secara mendalam. Hidup bukan hanya di dunia melainkan hidup untuk di akherat kelak. Dari mana kita bermula? dan untuk apa? Kita ada di dunia bukan sekadar kebetulan saja. Apalagi tiba-tiba manusia ada karena dari "hewan" (kera). Hal yang mustahil.

Menuntut ilmu memang dituntut untuk setinggi-tingginya dan sebanyak-banyaknya. Sama seperti ketika kita atau saya lah, melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi. Tujuan apa yang ingin kita capai setelah lulus dari perguruan tinggi tersebut? Kerjakah? Jika tujuan dari sekolah tinggi, dalam artian hanya ingin memperoleh gelar dan kawan-kawannya, maka kekecewaan akan segera menanti dirimu. Bersyukurnya aku, tidak merasa kecewa mendalam ketika lulus kuliah tidak bekerja (yang menghasilkan uang). Sedih, ya tentu ada, sebab mungkin hanya aku yang memiliki pengalaman yang buruk setelah lulus. Namun Allah Ta'ala memberikan cahayaNYA berupa sorotan-sorotan dari beberapa orang yang justru memiliki pengalaman yang lebih buruk dari diriku.

Bisa jadi hikmah lainnya adalah agar aku bisa lebih dekat dengan keluargaku, kedua orangtuaku, dan adik-adikku. Buktinya ketika Ramadhan lalu, tiap sore aku dan ibu saling beradu usil, atau dengan si bungsu. Sambil mendengarkan radio yang kadang (itu-itu juga lagunya). Kini aku hanya mengenangnya. Alhamdulillah Allah Ta'ala telah menurunkan janjiNYA.. Tidak ada hal yang sia-sia jika kita meniatkan segala sesuatu dengan benar dan ikhlas Lillahi Ta'ala. Insya Allah

Minggu, 15 Juli 2012

FOKUS

Salah satu alasan penyebab banyak orang gagal atau tidak maksimal dalam mencapai target atau tujuan yang telah mereka tetapkan adalah ketidakmampuan dalam menjaga fokus. Fokus ini menjadi hal yang sangat penting untuk mencapai tujuan dan mendapatkan hasil yang terbaik karena dengan fokus kita mampu mensinergikan dan menyatukan energi-energi dan pemikiran-pemikiran menjadi satu sehingga menghasilkan hasil yang terbaik.

Jika kita ingin menganalogikannya, seperti sebuah kaca pembesar/LUP yang mampu memusatkan energi panas matahari yang tersebar sehingga mampu membakar benda yang dituju. Seperti gambar di bawah ini:
Kita dapat melihat betapa fokus akan menghasilkan hasil yang terbaik, oleh karena itu penting bagi kita untuk menjaga fokus!

Menjaga fokus ini memang tidaklah mudah. Untuk meraih tujuan, apalagi tujuan besar, kita perlu kesabaran karena mungkin memerlukan waktu yang lama untuk mencapai tujuan tersebut. Selama proses mencapai tujuan, akan ada banyak hal yang mengganggu dan membuyarkan fokus kita. Jika kita tidak bisa menjaga fokus, maka tercapainya tujuan akan lebih lama bahkan gagal. Menjaga fokus memang tantangan banyak orang.

OK, sekarang kita akan bahas bagaimana cara menjaga fokus dari mulai menetapkan tujuan sampai tujuan tersebut dicapai. Cara-cara menjaga fokus sebenarnya sederhana, bahkan seperti terlihat aneh. Inilah mungkin yang menyebabkan banyak orang yang tidak berusaha untuk menjaga fokus. Karena merasa ribet atau menganggapnya sepele.

Sudahkah Anda menetapkan tujuan? Anda tidak akan fokus jika Anda belum menetapkan tujuan. Jadi langkah-langkah di bawah ini hanya bisa dilakukan setelah Anda menetapkan tujuan.


Trik-trik Menjaga Fokus

1. Ada pengingat atau yang mengingatkan. Kita akan kehilangan komitmen jika kita lupa dengan tujuan kita. Dengan berbagai kesibukan dan kewajiban yang harus kita lakukan setiap hari, kadang kita terlupakan untuk berusaha mencapai tujuan yang sudah ditetapkan. Jadi, harus ada pengingat bahwa Anda sedang mencapai tujuan tertentu. Ada banyak ide agar ada pengingat setiap hari:
  • Menempel gambar yang berkaitan dengan tujuan kita di tempat yang setiap hari pasti terlihat. Misalnya Anda cari foto mobil yang Anda inginkan, kemudian tempel di lemari es atau di kamar tidur Anda. Setidaknya, Anda akan teringat terus setiap hari bahwa Anda sedang mencapai tujuan tertentu.
  • Bekerja sama dengan orang lain, bisa keluarga, untuk saling mengingatkan dalam upaya mencapai tujuan.
  • dan lain-lain
2. Menghujamkan tujuan Anda ke pikiran bawah sadar Anda. Jika tujuan sudah terhujam dalam pikiran bawah sadar Anda, maka secara otomatis Anda akan teringat kepada tujuan Anda atau tindakan Anda akan diarahkan secara otomatis menuju tujuan Anda. Caranya:
  • Mereview atau membaca tujuan Anda secara berulang-ulang. Dengan suara lantang lebih bagus.
  • Tulis tujuan Anda, dengan tulisan tangan, berulang-ulang. Sampai ratusan kali.
  • Melakukan visualisasi tujuan Anda.
3. Miliki mental juara. Mental juara akan mendorong Anda untuk mencapai tujuan Anda secepat mungkin. Seseorang yang memiliki mental juara tidak akan pernah menunda-nunda. Tidak akan mudah terganggu pikirannya oleh hal lain. Dengan memiliki mental juara, Anda akan lebih mudah untuk menjaga fokus.

Sabtu, 14 Juli 2012

Dari Jalanan

Ada hal menarik yang saya pelajari dari dua hari yang lalu.Yaitu ketika saya hendak menyebrang ke sisi kanan jalan, ada pengendara motor yang mempersilahkan saya untuk menyebrang terlebih dulu. Motornya  berjalan perlahan, lalu tangan kanannya mengayun ke depan (mempersilahkan) disertai dengan anggukan kecil. "wah, sopan sekali.. Masih ada juga pengendara yang baik hati" pikirku.

Kemudian muncullah pertanyaan yang terlintas di benak ini, "apakah aku bisa seperti itu?". Pertanyaan yang hanya bercokol dalam hati. Sebab selama aku mengendarai motor, mungkin saja banyak kesalahan yang aku lakukan kepada pengguna jalan yang lain. Kadang-kadang ketika sudah berada di jalanan, ada rasa ego yang selalu ingin diperhatikan. Sesama pengendara saling dahulu-mendahului, termasuk diriku sendiri.

Sebenarnya mendahului itu memiliki banyak motif, misalnya karena tidak ingin datang terlambat (kebanyakan para pekerja dan para siswa). Ada pula yang tidak menginginkan asap knalpot kendaraan lain itu terhirup olehnya, dan bisa jadi oleh sebab hal lainnya. Tetapi yang amat menjengkelkan adalah ketika pengendara membunyikan klaksonnya apalagi sampai beberapa kali. Apakah engkau tahu bahwa itu sudah mengganggu orang lain..?

Hari itu sungguh membahagiakan, bahwa masih ada pengendara yang baik hati. Memperoleh kebaikan dari orang lain adalah hal yang begitu membahagiakan hati, sekalipun orang tersebut tidak kita kenal. Kebaikan Allah Subhanallahuwata'ala lah yang membawa kebaikan kepada dirinya untuk disalurkan kepada orang lain. Bukankah kebaikan Allah Ta'ala itu nyata dan tak terhingga? Namun diri ini sering lalai pada apa-apa yang diberikanNYA.

Alhamdulillah..

dan terima kasih untukmu, pengendara motor yang baik hati..




Senin, 09 Juli 2012

Karya Muda, Kaya Hati








Pelatihan kepenyiaran edisi ke-3, so.. segera daftarkan diri anda sebelum hari akhir..
Hanya di A Radio Bandar Lampung 101,1 FM "Media Cerdas, Penyejuk Hati"

satukan langkah.. eratkan ukhuwah.. sukses selalu..!!! ^^

Sabtu, 07 Juli 2012

Ibu Hamil dan Al-Quran

Seorang ibu hamil dan dokter pernah menunjukkan bagaimana efek ayat Al-Quran yang didengarkan pada janin. Memperdengarkan ayat Quran pada janin bayi ternyata dapat menentramkan bayi dalam janin.

Pada tahun 1839, ilmuwan Enrick William Duve menemukan bahwa mengekspos otak dengan gelombang suara rendah berpengaruh positif pada sel di dalam tubuh manusia. Ilmuwan ini menemukan bahwa memperdengarkan gelombang ini akan membuat sel-sel otak berada dalam keadaan getaran. Setiap sel bergetar mepengaruhi pembaharuan sistem sel-sel lain di sekitarnya. Oleh karena itu, peneliti menggunakan cara ini untuk mengobati beberapa penyakit psikologis seperti skizofrenia, kecemasan masalah tidur dan beberapa kebiasaan buruk seperti merokok, kecanduan narkoba,dan lain-lain.

Di dalam kebiasaan masyarakat Barat, mendengarkan lagu klasik menimbulkan 'mozart effect' yang berpengaruh dalam tumbuh kembang janin dan membuat anak semkain cerdas. Namun, apakah kita tidak sadar bahwa bacaan ayat Al-Quran yang merdu ternyata memiliki gelombang alpha yang sama.

Mendengarkan bacaan ayat Al-Quran yang disenandungkan secara merdu juga memiliki gelombang alpha pada otak bayi. Ini juga menjadikan ppikiran yang tenang, kesehatan dan intelejensia meningkat. Bahkan dalam scan dan ultra sonografi (USG) menunjukkan bayi bersujud ketika dibacakan ayat Al-Quran.
"Kami telah menciptakan kamu: mengapa kamu tidak membenarkan? Adakah kamu memperhatikan (benih manusia) yang kamu pancarkan? Kamukah yang menciptakannya? Atau Kami yang menciptakannya?" (QS. 56 : 57-59)

Tiap bayi lahir dalam keadaan fitrah, tentu suara-suara firman Allah Subhanallahuwata'ala lebih baik daripada suara-suara orang yang tidak pernah bersujud pada pencipta sang janin.
Subhanallah.. karena semua bayi pada hakekatnya sudah Islam dan beriman kepada Allah Ta'ala, dan orang tuanyalah yang menjadikannya nasrani yahudi dan majusi. Hasilnya ketika dibacakan surat Al Fatihah dan Al Baqarah, bayi dalam janin dengan di USG terdiam dalam kondisi sujud seakan-akan mengenali suara-suara yang sedang dibacakan.

subhanallah....... Maha Sempurna Allah dengan segala ciptaan-NYA...
Allahu Akbar..!!!

Jumat, 06 Juli 2012

smile :)

Hari yang luar biasa, ketika kita mampu memaknainya. Berusaha menerima kemudian menjalaninya dengan ceria, meski hati  sedang bergemuruh. Kita tidak pernah tahu sebelum kita mencobanya. Mencoba memaknainya.

Kisah kehidupan itu unik dan menarik. Selalu ada masa dalam menjalani sesuatu. Masa di dalam kandungan, masa balita, masa kanak-kanak, masa remaja, masa dewasa, masa tua, masa gaib (ketika roh sudah mengelana di alam akhirat).

Dulu, rasa iri selalu menyelimuti pikiran ketika melihat atau mendengar kisah beberapa sahabat (yang dalam asumsi kita, mereka sukses). Dari sana kita merasa ketidakadilan Tuhan. Mudah mengeluh, sedikit-sedikit menyerah, ah...entah apalagi rasa buruk yang menaungi pikiran saat itu. Ada pertarungan hebat kala itu  antara akal dan hati. Pertentangan demi pertentangan bergulir dengan seru. "Capek lho mengeluh itu..." hampir tidak ada ruang/tempat positif di dalam pikiran kita. Semua bisa menjadi negatif.

Barulah beberapa bulan bahkan beberapa tahun, kita memahami kondisi tersebut. Apa yang kita anggap baik, belum tentu baik untuk kita. Dan apa-apa yang kita pandang buruk, tidak selamanya itu terjadi pada kita.

Sobat, kita selalu mengalami permasalahan yang sama, tetapi berbeda pada proses dan penyelesaiannya. Berilah waktu sejenak untuk merenung dan memahami hakekat kehidupan. Sebab segala sesuatu yang hidup pada akhirnya akan mati. Dari yang tidak ada akan kembali menjadi tidak ada.
So...........??



Rabu, 04 Juli 2012

Di Balik Perang Tabuk

Tabuk ialah sebuah benteng yang kuat dan tinggi, dibangun di sebuah kawasan perbatasan Syam, atau Suriah sekarang. Pada zaman itu Suriah merupakan tanah jajahan imperium Romawi Timur. Penduduk Syam saat itu beragama Kristen, dan para pejabat pemerintahannya ditunjuk oleh para penguasa Romawi.

Penyebaran agama Islam yang sangat cepat di Tanah Arab dan kemenangan umat muslimin dalam berbagai peperangan, membuat para penguasa Syam takut, sehingga mendorong mereka untuk menyusun strategi. Mereka berpikir bahwa sebelum Islam semakin menyebar dan memperoleh kekuatan, maka mereka harus membasminya terlebih dahulu. Rupanya strategi preemtif yang sekarang ini diterapkan oleh AS, sudah dikenal sejak zaman dulu.

Persiapan pasukan Syam yang didukung oleh pasukan imperium Romawi dan niat mereka untuk melancarkan serangan preventif terhadap muslimin ini telah didengar oleh Rasullullah Shalallahuwa’alaihi wasalam, melalui berita yang dibawa oleh para pedagang Arab yang jalur perdagangan mereka itu adalah Madinah - Syam. Beliaupun merasa harus segera mempersiapkan pasukan dalam jumlah besar untuk menghadang dan memberi pelajaran kepada pasukan Syam dukungan Romawi itu, selain tentu saja demi menjaga dan mempertahankan pemerintahan Islam yang berhasil beliau tegakkan di jazirah Arab.

Ketika Rasullullah Shalallahuwa’alaihi wasalam mengajak umat muslimin Makkah dan Madinah untuk ikut dalam peperangan, sebagian dari mereka menolak dengan memberikan berbagai macam alasan. Hal ini disinggung di dalam Al-Quran Surat At-Taubah Ayat 49, juga Surat yang sama Ayat 81 dan 82. Pada saat mempersiapkan pasukan untuk menghadapi serangan dari Syam ini, Rasullullah Shalallahuwa’alaihi wasalam banyak menghadapi usaha pengkhianatan dari kaum munafikin. Akan tetapi berkat kejelian dan ketegasan beliau, semua usaha tersebut dapat beliau atasi dengan baik.

Perang Tabuk ini termasuk di antara peperangan yang sangat penting, meskipun kemudian peperangan ini tidak terjadi karena pihak musuh merasa takut dan gentar melihat kebesaran dan keberanian pasukan muslimin. Mereka bersembunyi di balik pintu gerbang dan di dalam kota. Oleh karena itu Rasullullah Shalallahuwa’alaihi wasalam hanya dapat menemui beberapa kabilah di sekitar Tabuk yang mereka itu beragama Kristen dan takluk di bawah kekuasaan kekaisaran Romawi. Rasullullah Shalallahuwa’alaihi wasalam mengadakan perjanjian damai dan tidak saling menyerang dengan kabilah-kabilah tersebut, sehingga beliau tidak merasa terancam oleh kabilah-kabilah ini. Setelah itu beliau kembali ke Madinah.
Ketika akan berangkat menuju Tabuk Rasullullah Shalallahuwa’alaihi wasalam sengaja tidak menyertakan Imam Ali as bersama beliau, akan tetapi meninggalkan beliau di Madinah. Rasullullah Shalallahuwa’alaihi wasalam menyadari bahwa beliau akan meninggalkan Madinah dalam waktu yang sangat lama karena Tabuk kawasan yang paling jauh dibanding medang perang lain yang pernah beliau alami. Dan oleh karena menyadari adanya sekelompok munafikin yang menunggu kesempatan ketiadaan Nabi di Madinah dalam waktu yang lama, untuk membuat semacam kudeta, maka Rasullullah Shalallahuwa’alaihi wasalam sengaja meninggalkan orang yang paling beliau percayai, yaitu Imam Ali as untuk menjaga Madinah dan seluruh kawasan Islam yang ada saat itu, yaitu Madinah, Makkah dan beberapa kawasan sekitarnya dari usaha-usaha jahat munafikin.

Melihat Rasullullah Shalallahuwa’alaihi wasalam meninggalkan Imam Ali di Madinah, kaum munafikin merasa kecewa dan yakin bahwa dengan keberadaan Imam Ali di Madinah, tak mungkin mereka dapat melaksanakan rencana jahat mereka. Untuk itu mereka menimbulkan isu-isu yang menyudutkan Imam Ali dengan harapan akan mendorong beliau untuk berangkat bersama Rasullullah Shalallahuwa’alaihi wasalam, meninggalkan Madinah. Pada intinya isu-isu tersebut mengatakan bahwa Rasullullah Shalallahuwa’alaihi wasalam sudah tidak lagi memerlukan Ali dalam peperangannya, atau bahwa Ali-lah yang meminta untuk tinggal bersama kaum perempuan dan anak kecil di Madinah, karena perang kali ini sangat jauh, dilakukan di tengah musim panas, dan menghadapi musuh yang sangat tangguh.
Mendengar kasak-kusuk kaum munafikin tersebut, Imam Ali berangkat mengejar rombongan Rasullullah Shalallahuwa’alaihi wasalam dan berhasil menemui beliau di Juhfah berjarak beberapa kilo meter dari Madinah. Di situlah Imam Ali menyampaikan kasak-kusuk kaum munafikin tersebut. Dan untuk membantahnya Rasullullah Shalallahuwa’alaihi wasalam kembali mengeluarkan pernyataan yang sangat terkenal dan menjadi salah satu bukti kepemimpinan Imam Ali. Ucapan Nabi ini kemudian dikenal dengan hadits “manzilah”. Beliau berkata kepada Imam Ali:
أما تَرْضى يا عَليّ أنْ تَÙƒُونَ Ù…ِÙ†ّÙŠ بِمنزلةِ هارونَ Ù…ِÙ†ْ Ù…ُوسى إلاّ أنَّÙ‡ لا نبيَّ بعدي
”Apakah engkau tidak suka wahai Ali, bahwa engkau memiliki kedudukan terhadapku sama seperti kedudukan Harun terhadap Musa? Hanya saja tidak ada Nabi lagi setelahku.”


**

Perang Tabuk juga menyimpan kisah-kisah menarik tentang kemunafikan sejumlah orang yang mengaku sebagai sahabat Nabi, akan tetapi mereka sebenarnya adalah orang-orang munafik. Peristiwa perang ini berlangsung di saat Jazirah Arab sedang dipanggang musim panas yang sangat terik. Hari-hari sangat panjang dan lautan pasir menjadi sangat garang. Kebiasaan orang-orang saat itu di musim panas adalah banyak beristirahat di siang hari.

Rasulullah menyeru kepada semua kabilah bersiap-siap dengan pasukan yang sebesar mungkin. Orang-orang  kaya  dari  kalangan  Muslimin  juga dimintanya supaya ikut serta dalam menyiapkan pasukan itu dengan  harta yang ada pada  mereka  serta  mengerahkan  orang  supaya sama-sama menggabungkan diri ke dalam  pasukan itu.  Seruan Rasulullah ini berarti ajakan untuk meninggalkan  isteri, anak, dan harta-benda di musim panas  yang  begitu  dahsyat. Mereka harus mengarungi lautan tandus padang sahara, yang kering, tanpa air, kemudian  harus pula menghadapi musuh kuat yang sudah mampu mengalahkan Kerajaan Persia.

Hati sebagian orang kaya itu sangat  berat langkah dalam memenuhi panggilan Rasulullah. Mereka mulai mereka itu mencari-cari alasan, sambil  berbisik-bisik sesama  mereka . Lebih jauh lagi, mereka mulai mencemooh ajakan Rasul yang mulia itu. Mereka akhirnya berdiam diri di rumah-rumah mereka secara sengaja. Ketika sekelompok orang-orang munafik mulai memprovokasi satu sama lain dengan mengatakan “Jangan kalian berangkat perang dalam udara panas seperti ini”. Turunlah firman Allah berikut ini,

Farihal mukhallafuna bi….
“Orang-orang tertinggal di belakang dan tidak ikut berperang itu merasa gembira dengan ketertinggalan mereka di belakang Rasulullah. Mereka tidak suka berjihad dengan dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka berkata, “Jangan kalian berangkat  perang  dalam udara  panas  begini”.  Katakanlah kepada mereka itu, “Api neraka lebih panas lagi, jika saja kalian  mengerti.  Biarlah  nanti mereka  tertawa sedikit dan menangis lebih banyak sebagai balasan atas hasil perbuatan mereka”. (Qur'an, surah at taubah ayat 81-82)

Di antara mereka, ada juga yang mencoba menghindari peperangan, namun tidak dengan terang-terangan seperti kaum munafik itu. Mereka itu sebenarnya telah terjebak kepada provokasi orang-orang munafik.Mereka yang tidak berangkat untuk berjihad sekitar 80 orang. Orang-orang Munafik, Orang-orang yang lemah/sakit, Al Buka’un, dan orang yang hatinya hampir berpaling (Ka’ab bin Malik, Murarah bin Rabi’ dan Hilal bin Umayah.

Tentara  Rasulullah akhirnya meneruskan  perjalanan  ke Tabuk. Sebenarnya  berita tentang  pasukan  ini  dan  kekuatannya sudah sampai kepada pihak Romawi. Inilah yang membuat pasukan Romawi gentar. Oleh karena  itu Setelah pihak Muslimin sampai  di  Tabuk  dan  Muhammad  mengetahui  pihak Romawi menarik diri ke dalam benteng-benteng mereka, Rasul merasa tidak pada tempatnya untuk tetap mengejar mereka  terus  sampai  ke dalam negeri mereka. Oleh  karena  itu,  ia  perintahkan kaum muslimin agar tetap  tinggal  di  perbatasan. Ketika itulah Yohanna bin Ru'ba -  seorang  amir  (penguasa) Aila yang tinggal  di perbatasan,  oleh Nabi dikirimi surat supaya ia tunduk atau  akan  diserbu.  Yohanna  datang sendiri dengan memakai salib dari emas di dadanya. Ia datang dengan membawa hadiah dan menyatakan  setia.  Ia  mengadakan perdamaian  dengan  Muhammad  dan  bersedia  membayar  jizya seperti yang juga dilakukan oleh pihak Jarba' dan  Adhruh dengan  membayar jizyah. Permintaan damai ini diterima oleh Rasulullah.

Akhir perang Tabuk Perjanjian perdamaian Rasulullah dengan penduduk Ailah, Jabra dan Adzruj dan siap menyerahkan jizyah kepadanya. Perperangan memakan waktu 50 hari, 20 hari berada di tabuk dan 30 harinya perjalanan berangkat ke Tabuk dan pulang ke Madinah.

Sanksi  bagi yang tidak ikut perang.
  • Orang-orang Munafik : dibiarkan, karena mereka bukan bagian dari kaum muslimin. “Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin)”. Q.S Ali Imran: 179
  • Orang-orang yang lemah : diampuni dosanya. “Tiada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, orang-orang yang sakit dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka Berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya”. Q.S At Taubah: 91
  • Al Buka’un : diampuni dosanya.
  • Orang yang hatinya hampir berpaling : dikucilkan secara total selama 50 hari, berjauhan dengan isteri selama 40 hari, diterima taubatnya oleh Allah. “Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”. Q.S At Taubah: 118

**

Kisah Ka'ab bin Malik

Pada perang Tabuk, ada beberapa sahabat yang tidak berangkat berperang. Salah satu di antar mereka. Salah satu di antara mereka adalah Ka’ab bin Malik. Marilah kita dengarkan cerita Ka’ab yang menunjukkan kejujuran imannya, usai turunnya pengampunan Allah atas dosanya.


“Aku sama sekali tidak pernah absent mengikuti semua peperangan bersama Rasululah saw, kecuali dalam perang Tabuk. Perihal ketidakikutsertaanku dalam perang Tabuk itu adalah karena kelalaian diriku terhadap perhiasan dunia, ketika itu keadaan ekonomiku jauh lebih baik daripada hari-hari sebelumnya. Demi Allah, aku tidak pernah memiliki barang dagangan lebih dari dua muatan onta, akan tetapi pada waktu peperangan itu aku memikinya.

Sungguh, tidak pernah Rasullah saw. merencanakan suatu peperangan melainkan beliau merahasiakan hal itu, kecuali pada perang Tabuk ini. Peperangan ini, Rasulullah saw. lakukan dalam kondisi panas terik matahari gurun yang sangat menyengat, menempuh perjalanan nan teramat jauh, serta menghadapi lawan yang benar-benar besar dan tangguh. Jadi, rencananya jelas sekali bagi kaum muslimin untuk mempersiapkan diri masing-masing menuju suatu perjalanan dan peperangan yang jelas pula.


Rasulullah saw. mempersiapkan pasukan yang akan berangkat. Aku pun mempersiapkan diri untuk ikut serta, tiba-tiba timbul pikiran ingin membatalkannya, lalu aku berkata dalam hati, “Aku bisa melakukannya kalau aku mau!”
Akhirnya, aku terbawa oleh pikiranku yang ragu-ragu, hingga para pasukan kaum muslimin mulai meninggalkan Madinah. Aku lihat pasukan kaum muslimin mulai meninggalkan Madinah, maka timbul pikiranku untuk mengejar mereka, toh mereka belum jauh. Namun, aku tidak melakukannya, kemalasan menghampiri dan bahkan menguasai diriku.
Tampaknya aku ditakdirkan untuk tidak ikut Akan tetapi, sungguh aku merasakan penderitaan batin sejak Rasulullah saw. meninggalkan Madinah. Bila aku keluar rumah, maka di jalan-jalan aku merasakan keterkucilan diri sebab aku tidak melihat orang kecuali orang-orang yang diragukan keislamannya. Merekalah orang-orang yang sudah mendapatkan rukhshah atau ijinAllah Ta’ala untuk uzur atau kalau tidak demikian maka mereka adalah orang-orang munafik. Padahal, aku merasakan bahwa diriku tidak termasuk keduanya.


Konon, Rasulullah saw. tidak menyebut-nyebut namaku sampai ke Tabuk. Setibanya di sana, ketika beliau sedang duduk-duduk bersama sahabatnya, beliau bertanya, “Apa yang dilakukan Ka’ab bin Malik?”
Seorang dari Bani Salamah menjawab, “Ya Rasulullah, ia ujub pada keadaan dan dirinya!” Mu’az bin Jabal menyangkal, “Buruk benar ucapanmu itu! Demi Allah, ya Rasulullah, aku tidak pernah mengerti melainkan kebaikannya saja!”Rasulullahsaw. hanya terdiam saja.

Beberapa waktu setelah berlalu, aku mendengar Rasulllah saw. kembali dari kancah jihad Tabuk. Ada dalam pikiranku berbagai desakan dan dorongan untuk membawa alasan palsu ke hadapan Rasulullah saw., bagaimana caranya supaya tidak terkena marahnya? Aku minta pandapat dari beberapa orang keluargaku yang terkenal berpikiran baik. Akan tetapi, ketika aku mendengar Nabi saw., segera tiba di Madinah, lenyaplah semua pikiran jahat itu. Aku merasa yakin bahwa aku tidak akan pernah menyelamatkan diri dengan kebatilan itu sama sekali. Maka, aku bertekad bulat akan menemui Rasulullah saw. dan mengatakan dengan tidak sebenarnya.

Pagi-pagi, Rasulullah saw. memasuki kota Madinah. Sudah menjadi kebiasaan, kalau beliau kembali dari suatu perjalanan, pertama masuk ke masjid dan shalat dua rakaat. /Demikian pula usai dari Tabuk, selesai shalat beliau kemudian duduk melayani tamu-tamunya. Lantas, berdatanganlah orang-orang yang tidak ikut perang Tabuk dengan membawa alasan masing-masing diselingi sumpah palsu untuk menguatkan alasan mereka. Jumlah mereka kira-kira delapan puluhan orang. Rasulullah saw. menerima alasan lahir mereka; dan mereka pun memperbaharui baiat setia mereka. Beliau memohonkan ampunan bagi mereka dan menyerahkan soal batinnya kepada Allah. Tibalah giliranku, aku datang mengucapkan salam kepada beliau. Beliau membalas dengan senyuman pula, namun jelas terlihat bahwa senyuman beliau adalah senyuman yang memendam rasa marah.
Beliau kemudian berkata, “Kemarilah!”


Aku pun menghampirinya, lalu duduk di hadapannya. Beliau tiba-tiba bertanya, “Wahai Ka’ab, mengapa dirimu tidak ikut? Bukankah kau telah menyatakan baiat kesetianmu?”

Aku menjawab, “Ya Rasulullah! Demi Allah. Kalau duduk di hadapan penduduk bumi yang lain, tentulah aku akan berhasil keluar dari amarah mereka dengan berbagai alasan dan dalil lainnya. Namun, demi Allah. Aku sadar kalau aku berbicara bohong kepadamu dan engkau pun menerima alasan kebohonganku, aku khawatir Allah akan membenciku. Kalau kini aku bicara jujur, kemudian karena itu engkau marah kepadaku, sesungguhnya aku berharap Allah akan mengampuni kealpaanku. Ya Rasululah saw., demi Allah, aku tidak punya uzur. Demi Allah, keadaan ekonomiku aku tidak pernah stabil disbanding tatkala aku mengikutimu itu!”

Rasulullah berkata, “Kalau begitu, tidak salah lagi. Kini, pergilah kau sehingga Allah menurunkan keputusan-Nya kepadamu!”


Aku pun pergi diikuti oleh orang-orang Bani Salamah. Mereka berkata, “Demi Allah. Kami belum pernah melihatmu melakukan dosa sebelum ini. Kau tampaknya tidak mampu membuat-buat alasan seperti yang lain, padahal dosamu itu sudah terhapus oleh permohonan ampun Rasulullah!”

Mereka terus saja menyalahkan tindakanku itu hingga ingin rasanya aku kembali menghadap Rasullah saw. untuk membawa alasan palsu, sebagaimana orang lain melakukannya.

Aku bertanya kapada mereka, “Apakah ada orang yang senasib denganku?”

Mereka menjawab, “Ya! Ada dua orang yang jawabannya sama dengan apa yang kau perbuat. Sekarang mereka berdua juga mendapat keputusan yang sama dari Rasulullah sebagaimana keadaanmu sekarang!”

Aku bertanya lagi, “Siapakah mereka itu?”


Mereka menjawab, “Murarah bin Rabi’ah Al-Amiri dan Hilal bin Umayah Al-Waqifi.”

Mereka menyebutkan dua nama orang shalih yang pernah ikut dalam perang Badr dan yang patut diteladani. Begitu mereka menyebutkan dua nama orang itu, aku bergegas pergi menemui mereka. Tak lama setelah itu, aku mendengar Rasululah melarang kaum muslimin berbicara dengan kami bertiga, di antara delapan puluhan orang yang tidak ikut dalam perang tersebut.

Kami mengucilkan diri dari masyarakat umum. Sikap mereka sudah lain kapada kami sehingga rasanya aku hidup di suatu negeri yang lain dari negeri yang aku kenal sebelumnya. Kedua rekanku itu mendekam di rumah masing-masing menangisi nasib dirinya, tetapi aku yang paling kuat dan tabah di antara mereka. Aku keluar untuk shalat jamaah dan kaluar masuk pasar meski tidak seorang pun yang mau berbicara denganku atau menanggapi bicaraku. Aku juga datang ke majilis Rasulullah saw. sesudah beliau shalat. Aku mengucapkan salam kepada beliau, sembari hati kecilku bertanya-tanya memperhatikan bibir beliau, “Apakah beliau menggerakkan bibirnya menjawab salamku atau tidak?”

Aku juga shalat dekat sekali dengan beliau. Aku mencuri pandang melihat pandangan beliau. Kalau aku bangkit mau shalat, ia melihat kepadaku. Namun, apabila aku melihat kepadanya, ia palingkan mukanya cepat-cepat. Sikap dingin masyarakat kepadanya, ia palingkan mukanya cepat-cepat. Sikap dingin masyarakat kepadaku terasa lama sekali. Pada suatu hari, aku mengetuk pintu paga Abu Qatadah, saudara misanku dan ia adalah saudara yang paling aku cintai. Aku mengucapkan salam kepadanya, tetapi demi Allah, ia tidak menjawab salamku.

Aku menegurya, “Abu Qatadah! Aku mohon dengan nama Allah, apakah kau tau bahwa aku mencintai Allah dan Rasul-Nya?”

Ia diam. Aku mengulangi permohonanku itu, namun ia tetap terdiam. Aku mengulangi permohonanku itu, namun ia tetap terdiam. Aku mengulanginya sekali lagi, tapi ia hanya menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu!”
Air mataku tidak tertahankan lagi. Kemudian aku kembali dengan penuh rasa kecewa.

Pada suatu hari, aku berjalan-jalan ke pasar kota Madinag. Tiba-tiba datanglah orang awam dari negeri Syam. Orang itu biasanya mengantarkan dagangan pangan ke kota Madinah. Ia bertanya, “Siapakah yang mau menolongku menemui Ka’ab bin Malik?”


Orang-orang di pasar itu menunjuk kepadaku, lalu orang itu datang kepadaku dan menyerahkan sepucuk surat kepadaku dan menyerahkan sepucuk surat dari raja Ghassan. Setelah kubuka, isinya sebagai berikut, “… Selain dari itu, bahwa sahabatmu sudah bersikap dingin terhadapmu. Allah tidak menjadikan kau hidup terhina dan sirna. Maka, ikutlah dengan kami di Ghassan, kamu akan menghiburmu!”
Hatiku berkata ketika membaca surat itu, “Ini juga salah satu ujian!” Lalu aku memasukkan surat itu ke dalam tungku dan membakarnya.

Pada hari yang ke-40 dari pengasinganku di kampung halaman sendiri, ketika aku menanti-nantikan turunnya wahyu, tiba-tiba datanglah kepadaku seorang pesuruh Rasulullah saw. menyampaikan pesannya, “Rasulullah memerintahkan kepadamu supaya kamu menjauhi istrimu!”

Aku semakin sedih, namun aku juga semakin pasrah kepada Allah, hingga terlontar pertanyaanku kepadanya, “Apakah aku harus menceraikannya atau apa yang akan kulakukan?”

Ia menjelaskan, “Tidak. Akan tetapi, kamu harus menjauhkan dirimu darinya dan menjauhkannya dari dirimu!”

Kiranya Rasulullah juga sudah mengirimkan pesannya kepada dua sahabatku yang bernasib sama. Aku langsung memerintahkan kepada istriku, “Pergilah kau kepada keluargamu sampai Allah memutuskan hukumnya kepada kita!”

Istri Hilal bin Umaiyah datang menghadap Rasulullah saw. lalu ia bertanya, “Ya Rasulullah, sebenarnya Hilal bin Umaiyah seorang yang sudah sangat tua, lagi pula ia tidak memiliki seorang pembantu. Apakah ada keberatan kalau aku melayaninya di rumah?”


Rasulullah saw. menjawab, “Tidak! Akan tetapi ia tidak boleh mendekatimu!”

Istri Hilal menjelaskan, “Ya Rasulullah! Ia sudah tidak bersemangat pada yang itu lagi. Demi Allah, yang dilakukannya hanya menangisi dosanya sejak saat itu hingga kini!”


Ada seorang familiku yang juga mengusulkan, “Coba minta izin kepada Rasulullah supaya istrimu melayai dirimu seperti halanya istri Hilal bin Umayah!”

Aku menjawab tegas, “Tidak Aku tidak akan minta izin kepada Rasulullah saw. tentang istriku. Apa katanya kelak, sedangkan aku masih muda?”

Akhirnya, hari-hari selanjutnya aku hidup seorang diri di rumah. Lengkaplah bilangan malam sejak orang-orang dicegah berbicara denganku menjadi 50 hari 50 malam. Pada waktu sedang shalat subuh di suatu pagi dari malam yang ke-50 ketika aku sedang dudung berdzkir minta ampun dan mohon dilepaskan dari kesempitan hidup dalam alam yang luas ini, tiba-tiba aku mendengar teriakan orang-orang memanggil namaku. ‘Wahai Ka’ab bin Malik, bergembiralah! Wahai Ka’ab bin Malik, bergembiralah!”


Mendengar berita itu aku langsung sujud memanjatkan syukur kepada Allah. Aku yakin pembebasan hukuman telah dikeluarkan. Aku yakin, Allah telah menurunkan ampunan-Nya.

Rasulullah menyampaikan berita itu kepada shahabat-shahabatnya seusai shalat shubuh bahwa Allah telah mengampuni aku dan dua orang shahabatku. Berlomba-lombalah orang mendatangi kami, hendak menceritakan berita germbira itu. Ada yang datang dengan berkuda, ada pula yang datang dengan berlari dari jauh mendahului yang berkuda. Sesudah keduanya sampai di hadapanku, aku berikan kepada dua orang itu kedua pakaian yang aku miliki. Demi Allah, saat itu aku tidak memiliki pakaian kecuali yang dua itu.

Aku mencari pinjaman pakaian untuk menghadap Rasullah. Ternyata aku telah disambut banyak orang dan dengan serta merta mereka mengucapkan selamat kepadaku. Demi Allah, tidak seorang pun dari muhajirin yang berdiri dan memberi ucapan selamat selain Thal’ah. Sikap Thalhah itu tak mungkin aku lupakan. Sesudah aku mengucapkan salam kepada Rasulullah, mukanya tampak cerah dan gembira, katanya kemudian, “Bergembiralah kau atas hari ini! Inilah hari yang paling baik bagimu sejak kau dilahirkan oleh ibumu!”

“Apakah dari Allah ataukah dari engkau ya Rasulullah?” tanyaku sabar.

“Bukan dariku! Pengampunan itu datangnya dari Allah!” jawab Rasul saw.

Demi Allah, aku belum pernah merasakan besarnya nikmat Allah kepadaku sesudah Dia memberi hidayah Islam kepadaku, lebih besar bagi jiwaku daripada sikap jujurku kepada Rasulullah saw.”

Ka’ab lalu membaca ayat pengampunannya itu dengan penuh haru dan syahdu, sementara air matanya berderai membasahi kedua pipinya.
“Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas, dan jiwa mereka pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah melainkan kepada-Nya saja. Kemudian, Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang.” (At-Taubah:118)



~ berbagai sumber

Tentang Mimpi

Mimpi itu penghias tidur. Mimpi sebagai refleksi diri dari animo manusia terhadap dunianya. Ketika tidur, roh yang ada di dalam tubuh ini terasa berada di tempat lain, sedang melakukan hal yang lain, dengan alur cerita yang tidak beraturan. Masing-masing memiliki penafsirannya tersendiri mengenai mimpi. Namun, ada adab yang sebaiknya dilakukan sebelum menafsirkan mimpi.

Hadis riwayat Abu Hurairah, ia berkata:
Dari Nabi bahwa beliau bersabda: Ketika kiamat telah mendekat, mimpi seorang muslim hampir tidak ada dustanya. Mimpi salah seorang di antara kalian yang paling mendekati kebenaran adalah mimpi orang yang paling jujur dalam berbicara. Mimpi orang muslim adalah termasuk satu dari empat puluh lima bagian kenabian. Mimpi itu dibagi menjadi tiga kelompok: Mimpi yang baik, yaitu kabar gembira yang datang dari Allah. Mimpi yang menyedihkan, yaitu mimpi yang datang dari setan. Dan mimpi yang datang dari bisikan diri sendiri. Jika salah seorang di antara kalian bermimpi yang tidak menyenangkan, maka hendaknya dia bangun dari tidur lalu mengerjakan salat dan hendaknya jangan dia ceritakan mimpi tersebut kepada orang lain. Beliau berkata: Aku gembira bila mimpi terikat dengan tali dan tidak suka bila mimpi dengan leher terbelenggu. Tali adalah lambang keteguhan dalam beragama. Kata Abu Hurairah: Aku tidak tahu apakah ia termasuk hadis atau ucapan Ibnu Sirin. (Shahih Muslim No.4200)

Disaat terbangun, terkadang secara tidak langsung pikiran kita tersugesti pada apa yang terjadi di alam (mimpi). Entah itu baik ataukah buruk. Sugesti tersebut mau tidak mau akan mempengaruhi aktivitas kita. Ada semacam dorongan untuk terus memikirkan kejadian yang dilakukan di sana (alam mimpi), dorongan itulah yang menjadi kecenderungan kita sebelum melakukan aktivitas di pagi hingga malam harinya.

Sebaiknya kita tidak terlalu memikirkan mimpi tersebut. Cukuplah sebagai refleksi diri setelah melakukan aktivitas selama seharian. Ambil yang baiknya saja, dan abaikan yang buruk.
Jagalah optimismu.. Realisasikan kesuksesanmu... ^^

Minggu, 01 Juli 2012

selalu ada

Ku lihat mentari di pagi ini, sepertinya ia tidak malu lagi untuk menunjukkan kelebihan yang dimilikinya. Ia tampak berbinar saat langit-langit dan awan membujuknya untuk tak terlihat. Mendung, suram, tanpa ada cahaya yang melingkupinya. Kemudian terdiam dalam lamunan siang yang kian waktu kian memanas. Namun, mentari tak singgah dari peraduannya untuk tetap bertahan pada apa yang menjadi kekuatannya.

Itulah si mentari, yang sama halnya seperti kita (hamba Allah SWT_manusia). Terkadang ia redup tak bercahaya oleh sesuatu yang tidak disenangi atau sesuatu yang tidak diharapkannya. Di lain waktu pun, ia bersinar dengan terangnya_gemilang seperti bintang terang di malam hari, oleh prestasi yang didapatkannya.
Bila ia redup namun tidak padam, apakah ia tetap disebut sebagai mentari? Karena sepengetahuan saya, mentari itu selalu yang bersinar, bercahaya, penuh dengan aura semangat. Tapi lagi-lagi, pengetahuan tidaklah sama terhadap apa yang dipikirkan. Jadi, akan wajar bila saya tetap menyebut mentari walau ia sedang tidak bersinar.

Seandainya mentari selalu bisa tersenyum, selalu menebarkan butir-butir semangat, dan tidak akan pernah mendung. Pasti dunia ini akan damai, sedikit. Ya... itulah kebesaran Sang Pencipta dengan segala ke-Mahabesarannya.

Ada gula pasti ada.. Ada suka selalu ada duka.. Ada menangis ada pula tertawa..
Jadi.. dunia ini penuh dengan keada-adaan. keada-adaan yang telah ada dan selalu ada.

kesehatan?

“Pendidikan kesehatan reproduksi, bagaimana melindungi diri sendiri. Menghormati kehidupan yang paling penting sebenarnya”, terang Menkes.

Pada video berdurasi 5 menit, 14 detik yang diunggah oleh akun Sehatnegeriku milik Pusat Komunikasi pada Rabu, 20 Juni 2012 pukul 19.23 WIB tersebut Menkes menyatakan Kementerian Kesehatan tidak akan membagi-bagikan k***** gratis pada masyarakat umum. Bagi mereka yang berisiko, pendidikan kesehatan reproduksi merupakan solusi utama untuk pencegahan penularan infeksi HIV/AIDS. Pada kesempatan tersebut, Menkes juga menyampaikan apresiasi kepada masyarakat yang memberikan perhatian terhadap  isu tersebut. Menkes juga mengajak seluruh masyarakat memperkokoh iman agar tidak tergoda untuk melakukan perilaku seks berisiko.

“Ini gerakan kita bersama untuk melindungi generasi muda kita baik dari penyakit maupun dari kehamilan yang tidak direncanakan”, tandas Menkes.

Dikutip dari website Kementerian Kesehatan Republik Indonesia / www.depkes.go.id


Opini masyarakat mengenai pembagian k***** yang dipromosikan oleh Menteri Kesehatan RI tersebut menuai banyak tanggapan dari berbagai kalangan. Entah itu dari pejabat, pebisnis, pegawai, pelajar, hingga ke pemulung, menyampaikan pandangan mereka mengenai perihal tersebut. Tanda tanya yang masih bersarang di dalam benak ini adalah, kenapa harus benda itu (k*****)? Apakah beliau terlalu pusing dengan kondisi penduduk Indonesia saat ini? Ataukah ada suatu hal sehingga beliau mengambil tindakan kejam seperti itu? Mungkin hanya beliau dan orang-orang sekitarnya saja yang paham benar apa maksud dari tindakannya.

Kita sebagai warga masyarakatnya hanya bisa berpendapat. Tentunya pendapat di antara kita pula berbeda. Meskipun demikian, menjadi tanggung jawab kita bersama untuk bisa semaksimal mungkin meminimalisir perzinahan yang terjadi.

Ada beberapa hal yang mempengaruhi terjadinya perzinaan, di antaranya:
1. menjamurnya media
2. kurangnya perhatian
3. kondisi lingkungan yang kurang sehat

^^

Menjamurnya Media

Media ibarat sandang pangan yang dibutuhkan para individu saat ini. Berkembangnya media elektronik yang menyajikan berbagai informasi, dan media massa yang kisruh pada polemik di setiap wilayah RI. Belum lagi aneka media sosial yang makin marak saat ini. Perkembangan perputaran media juga membangkitkan individu menjadi konsumtif terhadap apapun yang bahkan itu (sesungguhnya) tidak diperlukan.
Ada baiknya penggunaan media tersebut digunakan secara proporsional. Dalam artian, menggunakan sesuai yang dibutuhkan. Terkadang mata ini silau akan gemerlapnya kehidupan duniawi. Masing-masing individu berlomba-lomba memenuhi kebutuhan yang sepertinya tidak ada akhirnya. Segala cara ditempuh, entah itu baik ataukah buruk bagi dirinya dan juga orang lain.
Informasi yang disuguhkan memang beragam, tetapi kita telah dianugerahi akal yang baik untuk menyaring segala informasi yang ada. Tidak semuanya dapat diterima, juga tidak semuanya tertolak begitu saja. Maka, mulailah dari saat ini juga untuk menyaring semua informasi yang diperoleh dari mana pun sumbernya. Membiasakan diri untuk membaca dan mendengarkan sesuatu yang  baik, sehingga pikiran ini tidak terpengaruh oleh virus negatif.


Kurangnya Perhatian

Orang tua adalah pendidik pertama untuk sang anak. Sebelum sang anak sekolah dan bercengkerama dengan lingkungannya, orang tualah yang membentuk awal karakter sang anak. Bagaimana sang anak bersikap, bagaimana sifatnya, mulanya ditentukan pada masa kanak-kanak. Saya hanya menebak, sebab itu yang terjadi di kehidupan yang saya dan sebagian teman-teman alami. Ditambah dengan beberapa referensi yang dibaca.
Ketika peran orang tua tidak memenuhi kebutuhan sang anak, sang anak beralih pada sesuatu yang sekiranya dapat memenuhi kebutuhan dirinya. Kebutuhan yang dimaksud bukan hanya kebutuhan materi, melainkan kebutuhan secara spiritual. Motivasi, semangat, empati, kasih sayang dan cinta, itu yang diperlukan.
Bila orang tua selalu mengandalkan materi, selalu memuaskan diri dengan materi, maka sang anak akan berpikir 'materi dan materi'. Tak jarang juga ditemukan kisah keluarga yang serba kekurangan (materi) namun hidupnya bahagia. Kenapa? Karena ketulusan cinta dan sayangnya kepada sang anak, sehingga akhirnya menumbuhkan cinta pula pada diri sang anak. Individu yang hatinya penuh rasa cinta yang tulus, tidak akan pernah menzalimi orang lain.


Kondisi Lingkungan

Ini juga yang sangat berpengaruh pada kehidupan manusia. Manusia adalah makhluk sosial, yang pasti akan membutuhkan keberadaan orang lain. Sekolah, kampus, tempat kerja, tempat tinggal, di mana pun kita berada tidak bisa jika kita hidup seorang diri. Bukankah Allah Subhanallahuwata'ala memerintahkan kita untuk berhubungan dengan manusia lainnya?
Namun, kita harus jeli dalam memilih dan memilah lingkungan. Lingkungan yang menjadi sarana kita dalam berteman (bersosialisasi), maka selektiflah dalam berteman. Sebab temanmu dapat menjadi kunci kesuksesan atau kegagalanmu.

Perzinahan tidak akan terjadi selama kita dapat menghalangi pintu masuknya. Pintu masuk bisa dari mana saja, seperti dari internet (semua situs bisa ditelusuri), televisi (tayangan-tayangan film/sinetron yang kurang diperhatikan dalam penyensorannya), teman jalan.
Pemberian k****** tidak dapat menyelesaikan masalah, bahkan akan memperpanjang masalah sebab masalahnya jadi tertunda. Ketika sudah terlanjur, ada yang mengambil jalan pintas yaitu dengan mengaborsikan janinnya. Entah bagaimana akan mempertanggung-jawabkan tindakannya tersebut.

Ingatlah. Kita terlahir sebagai manusia.
Siapa yang menciptakan kita?
Setiap tindakan memiliki konsekuensi yang haru ditebus. Pilihlah jalan yang benar. Sesungguhnya fitrah manusia akan tunduk pada kebenaran Allah.


Shalahuddin Al Ayyubi

Siapa yang tak kenal dengan nama kota Jerussalem. Kota yang melahirkan banyak orang-orang militan dalam perjuangan Islam ini ternyata punya kisah panjang dalam sejarah. Masjidil Aqsa, kiblat pertama umat Islam pun ada di kota mulia ini, sebelum akhirnya berpindah ke tanah suci Makkah, menghadap Ka'bah.


Dari kota ini pula Rasulullah memulai perjalanan Isra' Mi'r-ajnya ke Sidratul Muntaha. Dalam sejarah keagamaan, kota ini juga dianggap suci oleh tiga agama samawi. Bagi umat Islam sudah jelas mengapa kota ini dianggap suci, karena masjid Aqsa persinggahan Rasulullah ada di sana. Bagi umat Nasrani, kota ini juga dianggap bersejarah karena berdekatan dengan kota Bethlehem tempat lahir Nabi Isa. Sedang bagi kaum Yahudi, kota ini diper-caya sebagai tempat berdirinya istana Nabi Sulaiman zaman dahulu kala. Haikal Sulaiman, begitu mereka menyebutnya.


Jauh sebelum Shalahuddin Al Ayyubi lahir, kota ini makmur dalam daulat pemerintahan Islam. Khalifah Umar bin Khattab berhasil merebut kota ini dengan damai dan hampir tanpa pertumpahan darah. Uskup Agung Sophronius pemegang tampuk kekuasaan Jerussalem kala itu, meminta Khalifah Umar mengambil alih kekuasaan.

Berabad-abad lamanya Jerussalem menjadi kota dambaan. Tak ada hak yang dilanggar, dan tak satupun kewajiban ditinggalkan tanpa mendapat sangsi. Semua peraturan berjalan dengan adil, penduduk makmur dan sejahtera. Semua pemeluk agama bebas melakukan iba-dahnya masing-masing tanpa khawatir diganggu atau ditindas kaum mayoritas.

Kaum Nasrani seluruh dunia bebas keluar masuk Jerussalem untuk melakukan ibadah agama mereka di Bethlehem, begitu juga orang-orang Yahudi. Pendeknya tak ada satu pun yang diganggu. Bahkan tak jarang orang-orang Nasrani dari Eropa datang dengan jumlah yang besar dalam iring-iringan panjang bersenjata lengkap bak pasukan perang.


Bak kata pepatah, dikasih hati minta jantung, diberi kebeba-san mereka kian kurang ajar. Dengan rombongan besar, kaum nasrani kerap kali mencelakai penduduk dan orang-orang muslim yang kebe-tulan mereka temui di perjalanan. Tercatat pada tahun 1064, 7000 orang yang bergabung dalam rombongan untuk beribadah itu telah menyerang orang-orang Arab dan Turki. Lebih jauh dari itu, para pemimpin agama mereka malah mengobarkan semangat untuk membebas-kan Jerussalem dari pemerintatah Islam pada kemudian.


Adalah Patriach Ermite, seorang pendeta yang getol sekali menyebarkan hasutan dan tak henti-hentinya memprovokasi orang Nasrani untuk membalas dendam serta merebut kembali kota Jerussa-lem. Dengan menunggang keledai dan memikul salib besar ia menje-lajah Eropa dan mengabarkan, bahwa di Jerussalem umat Nasrani telah dianiaya. Dengan pakaiannya yang compang-camping ia berk-hutbah dari gereja ke gereja, dari satu kota ke kota lainnya, bahwa kubur Nabi Isa telah diinjak-injak dan umat Kristen telah dihina oleh muslim Jerussalem.

Kontan saja, mendengar kabar bohong yang demikian, semangat juang kaum Nasrani membela agamanya berkobar dengan segera. Tak peduli perampok, tak peduli pencuri semua mengangkat senjata untuk membela. Dana-dana dikumpulkan, senjata-senjata diasah tajam dan perang suci pun diumumkan. Lebih dari itu, Paus Urbanus II mengumumkan akan memberikan ampunan dosa bagi siapa saja yang ikut berperang. Siapa yang tak ingin ikut berperang jika jami-nannya terbebas dari dosa turunan yang selama ini mereka emban.
 
15 Agustus 1095 adalah hari yang ditentukan untuk memberang-katkan pasukan Salib ke Timur Tengah oleh Paus Urbanus II. Lagi-lagi pendeta Patriach Ermite menghasut rakyat, "Hari yang diten-tukan terlalu lama," katanya. Ia tak sabar untuk segera menghan-curkan Islam. Akhirnya dengan membawa 60.000 pasukan, Pendeta Ermite memimpin penyerbuan. Di tengah jalan, kaum tani dan orang awam datang bergabung, dan hampir semua tempat yang dilalui pasukan itu selalu menyumbangkan tenaga-tenaga mudanya untuk berperang suci. Sehingga jumlah pasukan yang menyerbu lebih awal sebanyak membengkak menjadi 200.000 orang.
 
Sepanjang perjalanan mereka membuat huru-hara, pasukan dii-zinkan untuk merampok, memperkosa dan membunuh orang yang mereka temui, dimana saja. Meski demikian sepanjang jalan pasukan salib selalu dieluk-elukan. Tapi ketika mereka tiba di Hongaria dan Bulgari, sambutan yang mereka tak seperti biasanya. Penduduk bersikap biasa saja, bahkan acuh pada mereka. Hal ini ternyata membuat sebagian besar pasukan salib kecewa dan marah, lalu menyerang penduduk Hongaria, juga Bulgaria. Tapi penduduk setem-pat tak tinggal diam, mereka pun angkat senjata melakukan perla-wanan, peperanganpun tak terelakkan. Dari jumlah 200. 000 orang, hanya 70.000 saja yang tersisa untuk melanjutkan perjalannya menuju Timur Tengah, sedang yang lainnya menemui nasib binasa.

Ekspedisi pasukan salib pertama yang dipimpin oleh sang pendeta yang tak tahu strategi kancah laga, akhirnya tumpas tak tersisa. Hal ini kian membuat pasukan salib yang belum berangkat kian membara dendamnya. Pasukan salib kedua pun tercipta, dengan dipimpin oleh anak-anak Raja Godfrey dari Perancis, mereka mengumpulkan pasukannya di Konstantinopel. Bak banjir bandang mereka datang menyerbu wilayah-wilayah yang berada dalam daulat pemerin-tahan Islam. Daerah-daerah Islam yang memang tak memiliki pasukan perang dalam jumlah besar, hampir dengan mudah mereka kalahkan.
 
Setelah bertempur sekian lama dan menghadapi pejuang-pejuang Islam yang pantang menyerah, akhirnya pasukan salib berhasil juga merebut kota Jerussalem dengan banjir darah. Pertengahan bulan Juli tahun 1099 kota Jerussalem mutlak dikuasai pasukan salib yang membabi buta.

Seperti kerasukan setan mereka membunuhi siapa saja yang beragama Islam. Tak peduli anak-anak, orang tua dan perempuan, asal Islam tak ada ampunan. Tak hanya itu mereka juga membantai kaum Yahudi dan Nasrani yang tak mau bergabung dengan pasukan salib. Mereka telah lupa daratan, berperang dengan biadab.

Seorang sejarawan Perancis dalam sebuah karyanya menuliskan, "Orang-orang Kristen pada tahun 1099 saat penaklukkan kota Jerus-salem membantai orang-orang Islam di jalan-jalan dan di rumah-rumah. Jerussalem tak punya tempat lagi bagi orang-orang yang kalah."

Jatuhnya kota suci Baitul Maqdis ke tangan pasukan salib seperti halilintar yang menyambar para pemimpin Islam. Kota suci yang telah 500 tahun berada dalam naungan Islam, kini terampas. Dengan ribuan korban menjadi tumbal. Darah-darah yang menggenangi sudut-sudut kota, seakan tak hendak hilang aroma anyirnya. Hari itu, Jerussalem benar-benar tumpas.
 
Maka berkumpullah para ulama dan khalifah seluruh jazirah Arab. Mereka tak menyangka Jerussalem jatuh ke tangan pasukan salib. Kemudian terkumpullah beberapa kalifah negara Islam yang bersedia menyatukan kekuatan untuk merebut kembali Baitul Maqdis.

Singkat cerita, setelah 40 tahun pasukan salib menduduki kota suci, Baitul Maqdis, lahirlah seorang bocah yang diberi nama Shalahuddin Al Ayyubi. Ayahnya, seorang pahlawan kota Syria, Najmuddin Ayyub. Shalahuddin yang lahir tahun 1138 itu mempunyai seorang paman, panglima perang kerajaan Syria, Asasuddin Syirkuh. Dari kedua orang itulah Shalahuddin mendapat gemblengan. Ayahnya dengan tegas mengajarkan agama, sedangkan pamannya dengan keras mendidiknya dalam ilmu keprajuritan.

Pada usianya yang masih belia, Shalahuddin kerap kali ikut turun ke kancah laga menemani pamannya. Pada tahun 1154, Panglima Asasuddin dan tentaranya berhasil merebut Damsyik yang kala itu dikuasai oleh pasukan salib. Kala itu, Shalahuddin masih berusia 16 tahun. Tapi ia sudah memanggul pedang dan senjata turun ke medan laga menegakkan daulat pemerintahan Islam.

Karirnya sebagai prajurit kian hari kian mantap. Saat usianya menginjak 25 tahun, bersama pamannya ia menaklukan dinasti Fatimiyah di Mesir. Daulat Fatimiyah yang beraliran Syi'ah itu tunduk. Nama Asasuddin Syirkuh, paman Shalahuddin pun kian melambung sebagai pahlawan kebanggaan.

Ternyata di mana-mana orang sakit hati dan iri selalu ada. Kedudukan dan kemenangan yang diraih Asasuddin membuat seorang pembesar kerajaan Syria, Wazir Shawar sakit hati. Ia tak rela Syirkuh menjadi besar dan berpengaruh. Maka dengan diam-diam ia mendekati pasukan salib dan meminta bantuan pada penguasanya kala itu, King Almeric. Dan terjadilah pertempuran besar antara pasukan salib dengan pasukan Asasuddin.
 
Tapi sayang, karena pasukan salib berjumlah sangat besar, Asasuddin dan shalahuddin pun dapat di kalahkan.

Setelah menerima syarat-syarat perdamaian dari pasukan salib, Asasuddin dan Shalahuddin pun diusir ke Damsyik. Mendengar persekongkolan yang terjadi, raja Syria, Emir Nuruddin Zanki marah besar pada sang Wazir. Dengan kekuatan gabungan para khalifah Islam mengirimkan pasukan untuk dipimpin kembali oleh Asa-suddin dan Shalahuddin. Hukuman untuk pengkhiatan akan dijatuhkan.

Kali ini pasukan salib di bawah komando King Almeric berhasil dikalahkan. Shawar yang hanya mempunyai sedikit pasukan pun bisa ditaklukkan. Mereka terusir dari tanah Mesir tanpa muka alias dipermalukan.

Kelak, suatu hari ketika Shalahuddin melakukan ziarah, dalam perjalanannya ia bertemu dengan wazir pengkhianat Shawar. Tawanan dibawa kembali untuk diadili dan dijatuhi hukuman. Setelah itu, khalifah Al Adhid mengangkat Shalahuddin sebagai panglima perang menggantikan pamannya. Sedangkan Asasuddin Syirkuh menduduki jabatan menjadi Wazir Besar, Perdana Menteri.

Tak lama setelah pelantikannya, Shalahuddin melakukan razia besar-besaran. Ia melakukan perjalanan militer mengamankan jalur sepanjang tepian Sungai Nil sampai daerah utara, Assuan. Sedangkan pamannya segera melakukan pembersihan kabinet dari aksi-aksi KKN besar-besaran.

Pada tahun 1171 terjadi peralihan pemerintahan besar-besaran, dari daulat Fatimiyah pada daulat Abassiah. Tapi berkat kepiawaian Shalahuddin tidak terjadi pertumpahan darah atau kericuhan besar. Semua berjalan dengan tenang dan aman. Pada tahun itu pula Shalahuddin meresmikan Universitas Al Azhar yang sebelumnya dijadikan tempat kajian kaum Syi'ah menjadi pusat ilmu Ahlul Sunnah.

Pada tahun-tahun pertamanya memegang jabatan sebagai panglima, Shalahuddin Al Ayyubi sekali lagi membuktikan kualitas kepemimpinannya. Selain gagah perkasa di medan laga, ia adalah seorang laki-laki lembut hati dan penyabar dalam kehidupannya sehari-hari. Ia punya kesetiaan yang tinggi dan sangat bersahaja hidupnya. Gemerlap kekayaan dunia tak menyilaukan pandangannya.

Dari tahun ke tahun, sebagai panglima, ia selalu berusaha menghalau pasukan salib yang akan mencaplok wilayahnya. Selain itu ia juga selalu berusaha menyatukan kekuasaan dan kekuatan khalifah-khalifah Islam lainnya. Setiap kakinya melangkah ia selalu menyerukan, bahwa umat Islam harus bersatu menghan-curkan kebathilan. Mesir yang saat itu di bawah kekuasaanya menjadi daerah yang benar-benar makmur dan adil.


Pada tahun 1173, Sultan Nuruddin Zanki wafat, dan digantikan oleh anaknya yang baru berusia 11 tahun. Banyak para ulama saat itu meminta Shalahuddin memangku jabatan khalifah untuk sementara. Usulan itu dilontarkan, karena selain masih muda khalifah baru itu juga belum punya wawasan yang cukup untuk memimpin bangsanya. Tapi Shalahuddin tidak menerimanya, ia lebih memilih untuk mendukung dan membantu khalifah muda itu saja.

Khalifah Ismail yang masih muda, ternyata tidaklah lama memangku jabatannya. Ia wafat dan tampuk kekuasaan beralih pada Shalahuddin Al Ayyubi. Pada masa pemerintahannya inilah Islam benar-benar mengalami masa kejayaan. Pasukan salib yang semula sangat berbangga diri, kini mulai mengukur-ukur kekuatan untuk menghadapi Shalahuddin. Mau tidak mau pasukan salib merasa gentar juga, karena kekuatan Islam di jazirah Arab dapat dipersatukan oleh Shalahuddin. An Nubah, Sudan, Yaman, Hijaz bahkan sampai Afrika pun telah bersatu.
 
Dengan kekuatan yang telah dihimpunnya, dan setelah melakukan beberapa perundingan, Shalahuddin memutuskan untuk merebut kembali kota suci Baitul Maqdis.

Strategi awal yang diterapkan oleh Shalahuddin adalah mengajak pasukan salib untuk berdamai. Tapi dasar pasukan salib, bak pepatah dikasih hati meminta jantung. Tawaran damai yang diulurkan Shalahuddin dianggap sebagai tanda kekalahan pasukan Islam.
 
Mereka akan melakukan pengkhianatan perjanjian damai yang telah disepakati. Ternyata, Shalahuddin telah mencium isyarat-isyarat pengkhiatan mereka. Justru itulah langkah kedua yang sudah direncanakan, ketika pasukan salib mengkhianati perjanjian, maka Shalahuddin punya alasan untuk memerangi mereka. Dan betul saja, tak menunggu waktu lama kaum salib melakukan pelanggaran.

Dengan kekuatan penuh Shalahuddin mencoba mengancam pasukan salib yang melanggar. Tapi dengan kekuatan penuh pula pasukan salib menantang. Peperangan terbuka tak bisa dihindari, pedang lawan pedang, darah bercucuran.

Shalahuddin Al Ayyubi turun ke medan laga dengan gagah berani menerjang lawan. Tapi sayang pasukan Shalahuddin kocar-kacir berantakan. Ia kalah, serangan pertamanya ke Baitul Maqdis mengalami kegagalan. Bahkan Shalahuddin sendiri nyaris tertawan musuh karena kekalahan itu.
 
Di saat yang seperti itu, ada sebuah peristiwa yang sangat mengejutkan. Di tengah terjadinya kancah peperangan antara pasukan salib dan tentara Shalahuddin, seorang panglima pasukan salib Count Rainald de Chatillon dengan membawa pasukan besar menuju Makkah dan Madinah. Dengan pasukan yang lengkap persenjataannya dan gegap gempita pasukannya ia hendak meluluhkan dua kota suci, Makkah dan Madinah.

Tak ubahnya pasukan gajah yang dulu hendak menghancurkan Ka'bah, pasukan Count Rainald de Catillon pun membawa niat yang sama. Tapi nasibnya memang tak lebih dari pasukan gajah pimpinan raja Abraha, pasukan salib pun dapat dihancurkan oleh kekuatan Islam di laut merah. Dengan sisa-sisa pasukannya Count Rainald de Catillon kembali lagi ke Jerussalem dengan tangan hampa.

Dalam perjalanan pulangnya ia melakukan perusakan dan pembantaian penduduk sipil yang tak berdaya. Sisa pasukannya melampias-kan kekalahan dengan biadab dan manusiawi. Di tengah perjalanan itu pula ia dan pasukannya bertemu dengan rombongan kabilah. Dalam rombongan kabilah itu kebetulan sekali terdapat salah seorang saudara perempuan Shalahuddin Al Ayyubi.

Bak singa menemukan mangsa, tanpa pikir panjang lagi kabilah kecil itu di hancur lumatkan pula. Ia menawan saudara perempuan Shalahuddin dan sesumbar pada orang-orang tentang kemenangan kecilnya. Dengan angkuh ia berkata, "Apakah Muhammad, nabi mereka itu, mampu datang dan menyelamatkan pengikutnya?"

Ekspedisi penyerangan pertama Shalahuddin, sebenarnya tak gagal total seperti yang banyak dituliskan dalam sejarah. Kegagalan itu lebih sebagai, test case, uji kekuatan. Sejauh mana power lawan.

Perjanjian damai yang dilanggar oleh pasukan salib seakan-akan memberi izin pada Shalahuddin untuk melakukan penyerangan yang kedua kali. Peristiwa penyanderaan saudara perempuan Shalahuddin adalah pemicu peperangan yang lebih besar lagi. Salah seorang anggota kabilah yang luput dari maut berhasil meloloskan diri. Ia melaporkan kejadian tersebut pada Shalahuddin. Demi mendengar perjanjian damai yang dibuat dikoyak-koyak dengan biadab, amarah Shalahuddin langsung memuncak.

Shalahuddin segera mengirim utusan, meminta pihak pasukan salib segera membebaskan tawanan seperti yang tertulis dalam perjanjian. Tak hanya saudara perempuan Shalahuddin yang diminta pembebasanya, semua tawanan Jerussalem, harus segera dibebaskan. Tapi permintaan itu tak mendapat jawaban. Pasukan salib acuh, bahkan menganggap utusan Shalahuddin seperti angin lalu.

Diperlakukan demikian, untuk menjaga wibawa, segera Shalahuddin mengumpulkan kekuatan perang. Pasukan salib pun tak tinggal diam, dengan kekuatan yang besar pula mereka menantang. Dan, perangpun tak dapat dihindarkan.

Gunung Hittin adalah tempat pertemuan kedua tentara raksasa tersebut. Maka, pertempuran dahsyat Shalahuddin versus pasukan salib juga disebut dengan perang Hittin.

Berhari-hari kedua pasukan beradu laga. Kekuatan tak tanggung-tanggung dikerahkan. Dengan izin Allah, pasukan Shalahuddin dapat meraih kemenangan. Tentara musuh yang berjumlah lebih dari 45.000 orang hancur berantakan. Hanya ribuan saja yang tersisa dan segera lari tunggang langgang. Sebagian lagi berhasil tertawan.

Salah seorang yang berhasil ditawan adalah seorang bangsawan, Count Rainald de Chatillon. Semua tawanan diangkut ke Damaskus, dengan perlakuan manusiawi tanpa penyiksaan. Count Rainald yang sebelumnya telah menawan saudara perempuan Shalahuddin dan melecehkan Rasulullah pun mendapat perlakuan baik pula.

"Sekarang bagaimana, apakah telah nampak olehmu, bahwa aku saja cukup untuk mewakili Nabi Muhammad saw? Apakah aku tidak cukup menjadi pengganti dan melakukan pembalasan pada penghinaan yang sudah kau berikan?" Tanya Shalahuddin pada Count Rainald saat ia dibawa kehadapan mahkamah agung.

Dengan kepala tertunduk dan muka merah karena malu Count Rainald de Catillon tak bisa berkata-kata. Shalahuddin mengajak Count Rainald untuk memeluk Islam dan melakukan taubat. Tapi ternyata ia tetap diam saja laksana batu. Maka hukuman pun dijatuhkan, Count Rainald de Catillon dijatuhi hukuman mati karena sudah berani menghina dan melecehkan Rasulullah.

Setelah perang Hittin, kemenangan-kemenangan lain berturut-turut diraih pasukan Shalahuddin Al Ayyubi.

Akhirnya, rencana yang sudah lama dinanti-nanti datang juga masanya. Tujuan besar yang sejak awal memang jadi impian Shalahuddin dan pasukan Islam, yakni membebaskan tanah suci Baitul Maqdis datang juga kesempatannya.

Berbekal segala kebutuhan dan perlengkapan perang, Shalahuddin berangkat menyongsong kemenangan. Kala itu kota Jerussalem dipenuhi oleh banyak pelarian dari perang Hittin. Tak kurang jumlah 60.000 pasukan berkumpul di dalam kota Jerussalem. Mereka siap menanti kedatangan pasukan Shalahuddin yang gagah berani.

Sesampainya Shalahuddin diperbatasan segera ia memerintahkan anak buahnya untuk mengepung dari segala penjuru mata angin. Empat puluh hari empat puluh malam Shalahuddin mengepung Jerussalem dengan pasukan penuh. Dan selama itu pula pasukan musuh hanya berani berdiam diri saja di dalam kota pertahanan.

Setelah empat puluh hari berlalu, Shalahuddin kemudian mengumumkan dan meminta kota suci Baitul Maqdis diserahkan. Dengan mematuhi adab-adab berperang dalam Islam, Shalahuddin berjanji tidak akan berlaku kasar apalagi melukai. Ia tidak akan berbuat sama dengan yang dilakukan Godfrey dan orang-orangnya pada tahun 1909. Shalahuddin berjanji tidak akan ada setetespun darah menceceri tanah jika kota Jerussalem diserahkan dengan damai pada pasukannya.

Tapi seperti yang telah diduga, pasukan salib menolak dan mencaci tawaran Shalahuddin. Bahkan mereka menyerukan komando untuk berperang habis-habisan melawan Shalahuddin. Gayungpun bersambut, kaum Kristen menjual, pasukan Shalahuddin membeli. Seruan perang pasukan Kristen dibalas dengan janji Shalahuddin yang akan menghabiskan seluruh kaum Kristen di dalam kota yang melawan. Dan seranganpun dilancarkan.

Anak panah api dan tombak dilontarkan. Seruan-seruan perang seakan-akan hendak meruntuhkan langit kota Jerussalem. Gegap gempita peperangan melambung tinggi ke angkasa. Debu-debu peperangan mengepul menjulang ke awan. Hari itu benar-benar hari pembalasan terhadap pembantaian yang dilakukan pasukan salib 90 tahun silam.

Kaum salib bertahan di dalam benteng dengan seluruh kekuatan. Peperangan tergelar selama empat belas hari tanpa henti. Sedikit demi sedikit pasukan salib menyaksikan kekalahannya. Pintu-pintu benteng pelan-pelan hancur dan roboh oleh tentara muslim. Pasukan demi pasukan Islam berhasil masuk ke jantung pertahanan kaum salib. Suasana benar-benar mencekam bagi orang-orang salib.

Kekalahan yang di ambang mata itu membuat beberapa pimpinan pasukan salib menyelinap dan menemui Shalahuddin. Pada Shalahuddin mereka tanpa malu meminta perlindungan dan akan menyerahkan kota dengan damai dan tenang.

"Aku tak akan menaklukkan kota ini kecuali dengan kekerasan sebagaimana kamu dulu melakukannya. Aku tidak akan membiarkan seorangpun di antara kalian melainkan akan kubunuh seperti kalian telah membunuh seluruh saudara-saudaraku seiman dulu," demikian Shalahudin menjawab bujuk rayu para bangsawan pasukan salib itu.

Delegasi perayu pertama telah gagal. Delegasi keduapun dikirim maju. Kali ini yang datang adalah kepala pelabuhan kota Jerussalem sendiri. Dengan kata-kata manis bak bulu perindu ia merayu Shalahuddin, tapi tetap gagal juga. Lalu mereka mengeluarkan ancaman. "Jika tuan tak hendak berdamai dengan kami, kami akan kembali dan membunuh semua tawanan yang ada pada kami. Setelah itu kami akan membunuh anak, cucu dan wanita kami sendiri, kemudian kami akan membumihanguskan seluruh kota. Baru kami akan maju lagi untuk berperang dengan Anda," kata sang kepala pelabuhan.

Ancaman itu membuat hati Shalahuddin melemah. Bagaimana tidak, tawanan kaum muslim yang ada pada mereka sebanyak 4000 orang bukan jumlah yang kecil. Akhirnya Shalahuddin mengumpulkan semua alim ulama untuk meminta pendapatnya. Pendapat mereka tentang sumpah keras yang sudah dikeluarkan. Fatwapun turun, Shalahuddin boleh membatalkan sumpahnya yang akan menumpas habis kaum salib dengan membayar kifarat atau denda seperti yang sudah ditentukan.

Setelah itu berlangsunglah penyerahan kota secara aman dan damai. Hampir-hampir tak ada pembalasan dendam. Tuntunan perang yang mulia dalam Islam sekali lagi dibuktikan oleh Shalahuddin Al Ayyubi. Penduduk Jerussalem dibebaskan dengan syarat. Mereka harus membayar tebusan, sepuluh dinar untuk laki-laki dan dua diar untuk anak-anak dan perempuan. Dan untuk yang tak sanggup membayar tebusan akan tetap dijadikan sebagai tawanan.

Semua senjata dan rumah harus mereka tinggalkan. Mereka boleh kemana saja mereka suka dengan aman. Jaminan diberikan, bahwa mereka tak akan mendapat gangguan dari pasukan Islam.

Hari Jum'at 27 Rajab 583 Hijriah, dengan suara takbir menggema kaum muslimin memasuki kota suci Baitul Maqdis dengan gegap gempita. Air mata menetes membasahi pipi Shalahuddin Al Ayyubi. "Allahu Akbar," gumamnya pelan dengan nada haru yang luarbiasa.

Kayu-kayu salib dan gambar-gambar rahib diturunkan dari tembok dan tiang-tiang pancang. Hari itu adalah hari kemenangan Islam.