Sabtu, 22 September 2012

Alhamdulillah...

Hari ini saya akan mengutip beberapa motivasi dari Ustadz Yusuf Mansyur. Kutipan ini semoga mencambuk diri agar senantiasa bersyukur kepada Rabb Semesta Alam. Bersyukur tak hanya sebatas mengucapkan ALHAMDULILLAH, namun alangkah lebih baik lagi jika kita lebih memaknai arti bersyukur yang sebenarnya.


yuk kita tengok..... ^^

Ada sebuah kepastian di dunia ini selain datangnya kematian, yaitu bahwa Allah, yang Maharahman Maharahim tidak akan menganiaya seseorang, melainkan karena perbuatannyalah yang menyebabkan menjadi terhukum. Tidak ada yang menyusahkan seseorang, kecuali dirinya sendiri yang membuat susah. Hanya kebanyakan tidak menyadarinya dan mencari sebab kesusahan dari luar dirinya.
"Belumkah datang kepada mer
eka berita penting tentang orang-orang yang sebelum mereka, (yaitu) kaum Nuh, 'Aad, Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk Madyan dan negeri-negeri yang telah musnah?. Telah datang kepada mereka rasul-rasul dengan membawa keterangan yang nyata, maka Allah tidaklah sekali-kali menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri." (QS At-Taubah [9] : 70)


Pikiran itu doa. Sesiapa yang memikirkan hanya baik-baik, insyaAllah ia akan mendapatkan juga yang baik-baik. Sesiapa yang memikirkan yang buruk-buruk, maka ia sama dengan mewujudkan pikiran buruknya itu. Orang-orang yang beriman akan banyak husnudzdzannya (baik sangka) sama Allah di setiap kejadian.

Siapa yang bershalawat kepada Nabi Muhammad Saw 1x, maka Allah akan bershalawat kepadanya 10x.
Bershalawatlah kepada Nabi Muhammad Saw, insyaAllah, Allah dan para Malaikat-Nya mendukung kita, mendukung segala ikhtiar kita, dalam upaya kita menyelesaikan semua kewajiban kita kepada orang lain.
 

 
Menangislah di saat bisa menangis. Itu pendapat sebagian orang bijak. Sebab, menangis bisa sedikit melepas beban. Namun, menangis yang satu ini memang tangisan asli, tangisan abadi yang tidak akan pernah lagi berganti tawa, yaitu ketika dipertontonkan ulang sandiwara kehidupan yang manusia mainkan kemudian.
Ia dihadapkan pada ancaman keabadian siksa negeri akhir. Demi Allah, wahai hatiku, segeralah menemui Allah sebelum semuanya menjadi terlambat. Sekali lagi, demi Allah, wahai hatiku, segeralah menemui Allah sebelum semuanya menjadi terlambat.


Resep hidup ini sebenarnya sangat sederhana: buatlah sebanyak-banyaknya orang bahagia maka kita akan bahagia. Buatlah sebanyak-banyaknya orang menderita maka kita pun akan menderita.
Hal yang biasa jika anak keturunan kita menangis ketika kita meninggal dunia kelak. Yang tidak biasa adalah jika kita sendiri yang menangis, melihat buruknya kehidupan yang sudah kita lalui semasa hidup sementara kita tidak ada lagi di dunia.


Jika biasa tidur di tikar, menjadi kenikmatan yang teramat sangat jika dapat tidur di dipan berbulu angkasa. Namun, jika terbiasa tidur di ranjang mewah, terasa panjanglah malamnya jika tidur beralasan tikar.
Benarlah kata sayyidina Ali,
"Kemiskinan memang kerap membuat orang menjadi kufur. Namun, harta juga sering membuat orang menjadi jauh, jauh dari Tuhannya, sejauh jarak maghrib dan masyriq, sejauh bentangan barat dengan timur."


Keputusasaan terkadang membuat manusia menjadi gamang dan rapuh serta membuat hidup seakan tanpa ruh dan jiwa. Hilang semangat hidup dan semangat untuk berbuat hal lainnya. Untuk itulah Allah sangat melarang manusia berputus asa.
“Jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir." (QS Yusuf [12] : 87)


Banyak orang yang tidak bisa mengingat Allah ketika senang, tetapi justru dia mampu mengingat Allah dan kembali kepada Allah ketika susah dan menderita. Inilah anugerah Allah yang paling besar. Anugerah untuk bisa kembali kepada-Nya dan mengingat-Nya. Mungkin, lewat serangkaian pintu kesusahan inilah yang mengantarkan kita kepada pertobatan dan keyakinan akan kebenaran Allah dan kuasa-Nya.
"Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji". (QS Al-Luqman [31] : 12)


Dunia memang penting untuk dikejar, harta memang penting untuk dicari, posisi sosial memang penting untuk didapatkan. Namun, dalam mengejar, mencari, dan mendapatkan itu semua jangan sampai kita melupakan Allah dan tidak menjadikan kita manusia-manusia yang kering dan hampa.
"Mereka (yang disembah itu) menjawab: "Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagi kami mengambil selain engkau (untuk jadi) pelindung, akan tetapi Engkau telah memberi mereka dan bapak-bapak mereka kenikmatan hidup, sampai mereka lupa mengingati (Engkau); dan mereka adalah kaum yang binasa". (QS Al-Furqan [25] : 18)


Kenali Allah pada saat kaya, Allah akan mengingat Anda ketika miskin. Kenali Allah pada saat miskin, Allah akan mengingat Anda pada saat kaya. Termasuk upaya mengenal Allah pada saat kaya adalah jangan sombong, jangan lupa diri, dan sudi berbagi. Termasuk mengenal Allah pada saat miskin adalah tidak putus asa, tidak berkurang ibadah, dan malah bertambah perlu kepada Allah.
"Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu[98], dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku." (QS Al-Baqarah [2] : 252)


Dunia memang penting untuk dikejar, harta memang penting untuk dicari, posisi sosial memang penting untuk didapatkan. Namun, dalam mengejar, mencari, dan mendapatkan itu semua jangan sampai kita melupakan Allah dan tidak menjadikan kita manusia-manusia yang kering dan hampa.
"Mereka (yang disembah itu) menjawab: "Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagi kami mengambil selain engkau (untuk jadi) pelindung, akan tetapi Engkau telah memberi mereka dan bapak-bapak mereka kenikmatan hidup, sampai mereka lupa mengingati (Engkau); dan mereka adalah kaum yang binasa". (QS Al-Furqan [25] : 18)


Dunia diciptakan dari tiada. Demikian juga dengan sesuatu yang kita anggap kita memilikinya. Jika kemudian ia di tangan kita lalu menghilang lagi, seharusnya kita biasa saja. Toh, awalnya juga kita tidak memiliki sesuatu. Begitulah perumpamaan dunia.
"Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah, Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS Al-Kahfi [18] : 45)


Keluarlah dari lingkungan yang membawa dirimu menjadi buruk atau mendapat bagian keburukan. Jangan pernah lagi mau menjadi mata rantai keburukan. Masuklah kepada kumpulan orang yang menggelar kebaikan. Sering-seringlah mendekati orang alim nan shaleh. Inilah mata rantai kebaikan. Doronglah sebanyak-banyaknya kebaikan supaya kamu memperoleh kebaikan dan supaya hidupmu selamat.
"Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan-amalan yang shaleh, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai; kekal mereka di dalamnya; mereka di dalamnya mempunyai isteri-isteri yang suci, dan Kami masukkan mereka ke tempat yang teduh lagi nyaman." (QS An-Nisaa' [4] : 57)


Tidak usah khawatir akan bahaya yang akan mengancammu. Sebab, jika tidak ada izin Allah, ancaman itu tidak akan terjadi meskipun engkau yang berbuat keburukan itu. Oleh karena itu, cepat-cepatlah kembali kepada Allah, mendekat kepada-Nya, dan memohon pertolongan-Nya.
"Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu." (QS Al-An'am [6] : 17)


Bila Anda menemukan keanehan dalam kehidupan Anda, dulu jaya, sekarang bangkrut; dulu mulia, sekarang hina; dulu kaya, sekarang terjerat hutang; maka pikirkanlah pemusahabahan terhadap diri sendiri untuk kemudian Anda melakukan perbaikan. Pertolongan Allah akan segera datang. Pasti. Pasti pertolongan Allah akan segera datang bagi Anda yang berniat kembali kepada Allah dan berkenan memperbaiki diri.
"Katakanlah kepada mereka yang lupa diri, jika mereka bersedia menghentikan perbuatan buruknya, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Tapi jika mereka kembali, maka berlakulah ketetapan yang semestinya memang terjadi sebagaimana dikenakan kepada mereka terdahulu." (QS Anfaal : 38)






 

Kamis, 09 Agustus 2012

1 Pikir

Menyingkap soal kepastian, tidak ada kepastian yang mutlak di dunia ini. Kepastian yang sengaja dirancang, dibuat sesempurna mungkin, pun belum bisa disebut dengan kepastian. Kepastian sebenarnya adalah ketidakpastian itu sendiri. Hal-hal yang tidak pasti itulah kepastian yang nyata (untuk sementara). Saya tidak tahu kapan akan bekera, atau Anda tidak tahu kapan akan meninggal. Tetapi kita sama-sama tahu bahwa kita akan menuju ke sana, ke arah yang belum pasti tersebut.

Beruntungnya kita, memiliki akal yang luar biasa fungsinya. Segala sesuatu bisa bergantung pada akal, terkadang pula kita perlu menyisihkan kecenderungan akal yang selalu mendominasi. Manusia pandai berencana, membuat targetan demi targetan untuk tercapainya satu tujuan tertentu, cerdas dalam mengotak-atik strategi demi terwjudnya suatu impian. Namun ada satu hal yang harus kita sadari, bahwa semua yang terencana atau tidak adalah kekuasan Allah Ta'ala. Lalu, apa kita mesti berpangku tangan, atau hanya mengandalkan tengadahan tangan saja agar apa-apa yang kita inginkan itu tercapai? Tidak. Bukan seperti itu bila kita sangat menginginkan sesuatu yang baik. Bukankah untuk mendapatkan buku berkualitas terbaik itu memerlukan dana yang tidak sedikit? Bukankah untuk pendidikan berkualitas terbaik kita harus rela menyisihkan dana yang lebih?

Karena ketidakpastian itulah kita dituntut untuk mengembangkan kreatifitas masing-masing. Kreatifitas dalam menjalani hidup, kreatifitas untuk berdamai dengan masalah, kreatifitas demi tercapainya tujuan yang diharapkan. Apa yang kita tuju pun sebenarnya tidak pasti, apakah akan terwujud (terjadi) atau tidak. Di dunia (semasa hidup) kita memiliki banyak cara untuk menjadikannya terjadi. Cara apa yang ditempuh, bagaimana menyusun strategi yang diaminkan oleh alam, semua beragantung pada upaya masing-masing individu.

Mari kita jemput sesuatu yang (belum) pasti dengan hal-hal yang berbau positif.
Apa yang kita yakini, apa pun yang kita pikirkan, bisa saja terjadi sewaktu-waktu.
Maka, berhatil-hatilah dalam beprasangka..

Jumat mubarok.. Semoga di perdetik selanjutnya bisa menjadi lebih baik lagi dari detik-detik sebelumnya..
Allohumma sholli 'ala sayyidana Muhammad

Rabu, 08 Agustus 2012

Dhuha


“Ya Allah, sesungguhnya waktu dhuha adalah waktu dhuhaMU, keagungan adalah keagunganMU, kebagusan adalah kebagusanMU, kekuatan adalah kekuatanMU, kekuasaan adalah kekuasaanMU, penjagaan adalah penjagaanMU. Ya Allah, apabila rizki kami di atas langit, turunkanlah, bila di dalam bumi, keluarkanlah, bila sukar, mudahkanlah, bila haram, sucikanlah, bila jauh, dekatkanlah, dengan hak waktu dhuha, keagungan, kebagusan, kekuatan dan kekuasaanMU. Berilah kepada kami apa-apa yang telahEngkau berikan kepada hamba-hambaMU yang shalih-shalih.”

Kamis, 02 Agustus 2012

Lisan Ke Lisan

Setiap orang pasti berusaha untuk menjaga dan mengangkat harkat dan martabatnya. Ia tidak rela untuk disingkap aib-aibnya atau pun dibeberkan kejelekannya. Karena hal ini dapat menjatuhkan dan merusak harkat dan martabatnya di hadapan orang lain.

“Setiap Muslim terhadap Muslim lain nya diharamkan darahnya, kehormatannya, dan juga hartanya.” (HR Muslim).

Hadis ini menjelaskan kepada kita tentang eratnya hubungan persaudaraan dan kasih sayang sesama Muslim. Bahwa setiap Muslim diharamkan menumpahkan darah (membunuh) dan merampas harta saudaranya seiman.

Demikian pula setiap Muslim diharamkan melakukan perbuatan yang dapat menjatuhkan, meremehkan, ataupun merusak kehormatan saudaranya. Karena, tidak ada seorang pun yang sempurna dan ma’shum (terjaga dari kesalahan) kecuali para nabi dan rasul. Sedangkan kita, tidak lepas dari kekurangan dan kelemahan.

Di bulan penuh rahmat ini, hal yang sangat disayangkan, media-media kita masih asyik pada tayangan-tayangan seperti ini. Tayangan gosip yang mereka perhalus dengan sebutan infotainment ini masih tersaji dengan tanpa tedeng aling-aling dan tanpa merasa berdosa.

Bukankah tayangan picisan ini hanya akan menjadikan tersingkap dan tersebar aib seseorang, yang pada gilirannya akan menjatuhkan dan merusak harkat dan martabatnya.

“Apakah kalian mengetahui apa itu ghibah?” tanya Rasul kepada para sahabatnya.

“Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu,” jawab mereka.

Sabda Rasul, “Engkau menyebutkan sesuatu yang ada pada saudaramu yang dia membencinya, jika yang engkau sebutkan tadi benar-benar ada pada saudaramu, sungguh engkau telah berbuat ghibah, sedangkan jika itu tidak benar maka engkau telah membuat kedustaan (fitnah) atasnya.” (HR Muslim).

Aisyah RA pernah berkata kepada Rasulullah tentang Shafiyyah bahwa dia adalah wanita yang pendek. “Sungguh engkau telah berkata dengan suatu kalimat yang kalau seandainya dicampur dengan air laut niscaya akan mengubah air laut itu,” jawab Rasul tidak suka. (HR Abu Dawud).

Sekadar menggambarkan bentuk tubuh seseorang saja sudah mendapat teguran keras dari Rasulullah SAW, lalu bagaimana dengan menyebutkan sesuatu yang lebih keji dari itu?

Dari sahabat Anas bin Malik RA, Rasulullah SAW bersabda, “Ketika aku mikraj (naik di langit), aku melewati suatu kaum yang kuku-kukunya dari tembaga dalam keadaan mencakar wajah-wajah dan dada-dadanya. Lalu aku bertanya, “Siapakah mereka itu wahai Jibril?” Malaikat Jibril menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang memakan daging-daging manusia dan merusak kehormatannya.” (HR Abu Dawud).

Yang dimaksud dengan ‘memakan daging-daging manusia’ dalam hadis ini adalah ghibah atau bergosip. “Hai orang-orang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka (kecurigaan), karena sebagian prasangka adalah dosa; janganlah mencari-cari keburukan orang, dan jangan menggunjing satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka, tentulah kamu merasa jijik terhadapnya...” (QS. Al-Hujurat [49]: 12).


oleh: M. Arifin Ilham

Minggu, 29 Juli 2012

Sepeda Butut




Bersama dalam dekapan sang bunda adalah anugerah terindah. Lebih indah lagi ketika aku memiliki bunda kedua, bukan ibu tiri lho tetapi ibu angkat. Dalam kesempatan ini aku akan menggoreskan tinta kerinduanku kepada sang bunda kedua. Lalu, bunda kandungku? Insya Allah, aku sudah menyiapkan sesuatu yang indah untuknya. Semoga engkau bahagia dan nantikan karya anakmu ini -bunda- emakku tersayang.
**
Fatimah adalah bunda keduaku alias ibu. Sebelumnya kami hanya tetangga, namun lama-kelamaan ikatan ini seperti keluarga kandung. Sebab tidak ada sanak saudara di tempat kami berada, maka jadilah kami keluarga baru. Setiap hari aku selalu bermain di rumahnya, itu sebelum keluargaku pindah ke desa seberang. Biarpun begitu, keluarganya sering berkunjung ke rumah kami. Hal yang paling membuatku senang kala itu adalah ketika mereka membawa buah tangan yang enak-enak (hehe…namanya juga anak kecil).
Suatu hari kedua orang tuaku pergi meninggalkanku sendiri, hal yang sangat aku benci. Mereka ke luar kota sementara aku  masih sekolah. “Aku tahu mereka akan pergi tapi mengapa tidak menungguku pulang dulu,” hanya jeritanku dalam hati. Kondisi di dalam rumah lengang, suasana hatiku pun kacau. Begitu sampai di kamar, bantal dan guling aku lempar-lemparkan ke atas kasur dan menangis sepuasnya karena aku kesal saat itu.
Di tengah tangis yang sesegukan, aku mendengar suara yang sangat familiar. Cepat-cepat ku keringkan air mata dengan pakaian sekolah yang serba acak-acakan. Ternyata ibu sudah di depan pintu. Melihat diriku yang berantakan, ibu segera mengajakku pulang ke rumahnya, aku menurut. Aku tidak melihat ayah atau pun motornya, hanya sepeda butut yang disandarkan di tembok rumah. “Naik sepeda?” aku heran.
Siang yang terik tak menyurutkan kakinya untuk menggoes sepeda itu, aku hanya diam melihatnya memboncengku dengan payah. Sebab tubuhnya yang lumayan besar. Terus menggoes. Jarak antara desanya dan desaku bisa lebih dari berpuluh-puluh kilometer. Naik motor saja hampir 20 menitan. Lah,  naik sepeda..
Beberapa meter lagi kami tiba di rumahnya, tapi saat hendak melintasi jalan yang menurun, sepedanya malah meluncur cepat dan kami pun terjatuh. Hampir menabrak seorang bapak pula. Untungnya bapak itu tidak apa-apa, sepertinya bapak itu dari masjid karena sejadah dan kopiah nya masih bertengger di tempatnya masing-masing.
Kejadian itu harusnya membuatku menangis, ini malah tertawa bersama ibu sambil sedikit meringis. Setiba di rumahnya, lecet-lecet di kakiku langsung dibersihkan dan diobati. Peristiwa jumat siang itu hingga sekarang masih tersimpan rapi di dalam hati ini. Bukan hanya itu, di saat kedua orang tuaku sering meninggalkanku ke luar kota, ibulah yang menjagaku. Setiap sekolah dibawakan bekal nasi uduk olehnya, sedangkan anaknya yang bungsu (setahun lebih tua dariku) tidak. Itu sebabnya aku suka sekali dengan nasi uduk.
Kedekatan kami seperti ikatan kandung saja, meski pun beliau sering marah kalau aku dan kak Di (putra bungsunya) selalu ribut, atau saat aku  malas mencuci piring sewaktu di rumahnya. Tapi aku senang, punya dua ibu dan kakak, karena aku anak pertama dan adikku selalu diajak orang tuaku kalau mereka pergi. Kalau hari raya Idul Fitri, pasti dapat jatah darinya. Aku ingat betul saat beliau memberikan pakaian yang sama untukku, untuk adikku, dan untuk kak Di. Sepasang kaos bermotif garis-garis besar berwarna biru muda dan biru tua.
**
Bila melihat sepeda, aku teringat pada kejadian itu, teringat akan sayangnya beliau padaku. Jauh-jauh untuk menjemputku. Kenapa tidak menunggu ayah pulang kerja saja. Kala itu aku tidak berpikir kesana, hanya memikirkan kenapa orang tuaku yang selalu pergi. Semakin teringat, perlahan membuatku paham.
Memang dulu aku sempat membenci orang tua kandungku karena seringnya mereka meninggalkanku sendirian. Itu beralasan karena memang ada hal penting yang harus mereka kerjakan hingga mereka seperti itu. Dengan begitu juga aku jadi punya keluarga lagi. Ibu Fatimah juga ibuku meski aku tidak keluar dari rahimnya. Selain itu aku jadi sedikit lebih mandiri, tidak merasa galau disaat orang-orang terdekatku jauh dariku meski pun sangat sulit ku lalui pada awalnya.
Semua hal memberi pelajaran yang berarti. Peristiwa sepeda itu selalu ku kenang, bahwa betapa sayangnya dirimu padaku walau aku bukanlah darah dagingmu. Aku berharap pada Sang Pemilik Jiwa, agar dirimu bahagia dan tentram di sisi-NYA, ku kenang dirimu ibu dalam doaku sebab aku tak dapat melihat senyummu lagi.
 Alhamdulillah Ya Allah.. Engkau memberiku dua sosok ibu yang hebat dalam kehidupanku. Terima kasih emak, terima kasih ibu. Semoga emak selalu dilimpahkan kesehatan. Aamiin Ya Robbal ‘Alamin..



Ideal-ku Bukan Sempurna



Sebenarnya apa yang aku pikirkan kala itu bukanlah sesuatu yang “wah” bagi kehidupanku saat ini, dampaknya sungguh luar biasa. Tidak ada kata ‘mengapa’ setelah mengambil jurusan yang bagiku sangat asing, yang ada hanyalah ‘ingin tahu’ (apa) dari apa yang aku baca. 
 
Keluar dari sekolah umum kemudian langsung melanjutkan ke Perguruan Tinggi yang kental dengan nuansa keislamannya, membuat diri ini mindernya bukan main. Membaca nama-nama jurusan yang tertera pada brosur itu saja sama sekali tidak aku pahami.  Jadi, aku lebih memilih jurusan tersebut karena menurutku mudah dipahami (praduga semata) karena tidak menggunakan bahasa Arab.
Memasuki dunia kampus tentu memiliki penyeleksian terlebih dahulu. Pihak kampus tidak mau tahu, apakah calon mahasiswanya tersebut berasal dari yang berlatar belakang Agama ataukah yang umum. Semua sama dan kami harus mengikuti peraturan mereka. Dengan ilmu yang sangat pas-pasan ini tetap saja aku paksakan diri untuk melanjutkan tahap seleksi itu, bermodal keyakinan diri saja. 
Akhirnya aku pun diterima, dan menjadi mahasiswa adalah hal baru bagiku. Semoga pencerahan menyelimuti raga ini. Mungkin, aku ini tipe orang yang tertutup sebab seorang sahabatku pernah mengatakan bahwa aku seperti itu. Untuk memulakan sesuatu yang baru, maka aku mencoba untuk membuka diri dan menerima siapa pun sebagai temanku nantinya. Sahabat SMA-ku lah yang mengenalkanku pada Islam pertama kalinya. Islam yang sesungguhnya dan bukan hanya sebagai cap semata. Sejak itu aku bertekad pada diri sendiri akan mengubah diri menjadi lebih baik dan bermanfaat tentunya. Dia akan selalu ada, tersimpan dalam hati ini, sebagai saudara yang paling berharga untukku.
 
Memang sulit untuk segala permulaan tapi akan menjadi lebih mudah ketika diri benar-benar ‘mau’ melakukannya. Mendapatkan teman di sana pun mudah, asalkan diri mau berbagi dan mau menerima mereka. Di awal-awal perkuliahan belum aku dapati sesuatu yang spesial. Masih mengikuti alur yang berlalu cepat.
~~
 Tahun berganti, tingkatan semester pun kian bertambah. Otakku berputar-putar, mulai mencari tahu apa yang sebenarnya harus aku dapatkan dari ini semua. Melihat terman-teman yang meninggalkan kandang alias pindah kuliah, membuat sebagian teman yang lain ingin mengikutinya pula. Ada semacam rasa dikucilkan oleh mahasiswa dari fakultas lain karena jumlah kami yang makin menyusut. Para dosen juga demikian. Kini bukan ‘ingin tahu’ lagi, melainkan menjadi ‘mengapa’ dan ‘bagaimana’ menjamur di otak ini. Ya, seperti itulah yang ada dipikirkan oleh akalku.
            Hingga akhirnya yang bertahan di sana hanya dua orang saja yang sejawatan. Namun ini bukanlah suatu akhir. Kami bisa lebih dekat dengan para dosen, saling mendukung dan memotivasi dengan mahasiswa se-fakultas. Tidak sedikit juga yang memandang kami dengan sinis atau yang merendahkan. Bagiku, inilah hal yang paling menarik dan terserah apapun asumsi orang lain terhadap tempat pembelajaranku. 
Hampir tiga semester berturut-turut aku mendapatkan dosen yang sama untuk mata kuliah yang berbeda. Karenanya aku sedikit tertarik (pada cara berpikirnya) pada sosok pendidik yang agak menyeramkan itu. Kemampuanku untuk menilai seseorang kadang tepat meskipun sering melesetnya juga dari perkiraanku. Semua pembelajaran terbaruku. 
Masing-masing pendidik memiliki kemampuan dan karakternya tersediri, sehingga metode yang digunakan pun banyak yang berbeda. Aku masih memilah dan memilih, dosen atau guru manakah yang tepat aku jadikan sebagai panutan. Seorang guru yang ideal.
Aqidah Filsafat adalah jurusan pilihan hatiku, tidak ada intervensi dari pihak mana pun. Dengan jumlah yang minim ini (dua orang) ada beberapa dosen dan mahasiswa lain mudah mengenali kami. Sebagian dosen ada yang membagi perhatiannya pada kami, meski sekadar penggugur kewajiban mereka untuk mendidik kami. Aku tetap optimis, bahwa ada dosen yang benar-benar peduli pada mahasiswanya. Sebab tidak jarang pula ada sebagian dari mereka yang mengacuhkan para mahasiswanya.
Aku tahu kalau sistem pembelajarannya bukanlah seperti disaat sekolah dulu. Justru mahasiswa dituntut untuk aktif sendiri. Dosen atau guru hanya memberi petunjuk dan mahasiswa harus menggali serta mengembangkan materi yang telah ditentukannya. Tetapi aku tidak ingin seperti itu. Setidaknya mereka mau membimbing kami dalam menafsirkan materi-materi yang telah diberikan.
Mahasiswa tidak sesempurna yang diharapkan meski pun secara pemikiran sedikit lebih matang. Dosen itu penting, sebagai pembimbing dan pendidik terlepas dari bagaimana cara mereka mendidik. Jika seseorang dilepaskan begitu saja mungkin pembelajaran yang didapat bisa komplit. Namun agar pemikirannya lebih terarah maka peranan sang dosen menjadi pertimbangan yang besar.
~~
  Setelah berlalu empat semester, Allah mengabulkan permintaanku mengenai dosen yang ideal. ideal dalam artian, peduli dan bersedia membimbing mahasiswanya. Sosok yang menyeramkan itu tetap melekat pada dirinya, tetapi aku sangat apresiatif pada pemikirannya. Beliau adalah salah satu dosen Filsafat di fakultasku. 
  Mr. Suf, panggilan yang aku sematkan untuk dosenku tersebut. Cara mengajarnya yang unik, dengan memberi sedikit materi lalu beliau mengajak kami untuk mengolah pemikiran kami. Selalu diperintahkan untuk membaca dan terus membaca. Walau aku terkadang sangat jemu untuk membaca teori-teori itu, berkilah adalah andalanku. Kadang juga beliau marah dan kesal pada kami berdua karena tidak mau berpikir, aku malah menikmatinya. Apa yang salah denganku? Entahlah.
  Aku suka membaca, bukanlah sebagai hobi tetapi itu sudah kebutuhanku. Bagaimana bisa aku berpikir kalau tidak diawali dengan membaca. Mungkin karena itulah Mr. Suf tidak pernah bosan untuk terus mengajak dan memerintahkan kami. Membaca pemikiran seseorang ternyata lebih sulit daripada membaca novel atau buku-buku sejenisnya. Karena harus memahami dengan benar alur pemikiran dan menafsirkannya dari sudut pandang kami sendiri. Bila benar-benar terpaksa maka harus dipaksakan untuk membaca pemikiran-pemikiran yang rumit itu.
Berbeda halnya bila membaca karya nonfiksi seperti cerpen, tinggal mengikuti alur cerita yang disediakan dan bahasanya pun cenderung lebih sederhana. Lain lagi dengan novel, yang membutuhkan kefokusan tersendiri sebab bila tidak, maka akan bingung sendiri dalam menyimpulkan cerita tersebut. Dan itu yang lebih ku sukai. 
 Hal yang disukai Mr. Suf adalah berdiskusi. Tidak membaca sama artinya seperti berperang tanpa membawa senjata. Membaca di ruang kuliahnya tidak lagi hal yang wajib, tetapi sudah harus siap mental untuk beradu pemikiran. Bila ketahuan membaca ketika kuliah berlangsung atau bila tidak ada persiapan sebelum kuliah dimulai maka siap-siap saja mendapat ‘kuliah’ tambahan. 
Pernah suatu hari, beliau sangat marah pada kami karena sikap acuh kami yang enggan berdiskusi, beliau tidak mau masuk kuliah meski pun sebenarnya beliau ada di ruang jurusan. Untunglah itu hanya sementara saja. Aku benar-benar kapok dan tidak mau mengulanginya lagi. Bertindak seperti itu saja selama dua pertemuan, bisa hancur nilaiku. Jadi, aku harus bersusah payah membujuk diriku sendiri dan Zik (temanku) untuk mengikuti perintahnya selama itu baik bagi semua.
Dibalik sosok yang menyeramkan itu, ternyata beliau ramah juga. Malah sering bercanda dan tidak ada canggung sama sekali meledek kami berdua. Bila aku dan Zik tidak sedang bersama, beliau yang hanya menemui salah satu dari kami hanya bertanya “Mana kancil yang satunya?”, ya begitulah candanya. Aku pun cuma mesam-mesem kecut tiap mendengar pertanyaannya yang sama bila bertemu. Kancil. Kancil itu kan sifatnya pintar, lincah, dan juga cerdik, biarlah aku ambil positifnya saja. Tapi aku senang.
Begitu sumringahnya wajah Mr. Suf ketika mendapati kami semangat untuk berdiskusi. beliau makin bersemangat. Materi yang ia sampaikan tidak begitu berat, praktis dan sederhana. Namun setelah dijabarkan sedetail mungkin, bisa kurang waktu yang kami punya untuk membahasnya. Sebab di Aqidah Filsafat, kami digembleng seperti tentara. Tentunya bukan tentara sungguhan, ini tentara pikiran. Dari pola pikir, cara pandang, menyikapi sesuatu, atau menafsirkan pemikiran lain  pun, semua harus sesuai dengan kaidah berpikir ilmiah. Harapanku, Mr. Suf dapat membimbing kami hingga akhir.
~~
Aku sangat menikmati keberadaanku di jurusan tersebut. Mulai pedekate dengan buku-buku yang aduhai (memusingkan) serta teori-teori yang kadang di ambang batas nalar manusia. Semua dipelajari di sana. 
Hingga di saat satu semester (di pertengahan semester akhir) aku menemui sebuah hentakan yang luar biasa dari materi yang harus aku pelajari. Filsafat Ketuhanan itulah mata kuliah yang buat shock akalku. Berputar-putar pada satu teori dan mengelilingi beberapa teori yang tidak masuk di akalku. Karena tidak sedikit yang membahas tentang ‘seperti apa Tuhan itu’, atau ‘eksistensi Tuhan’, dan apa pun yang bersinggungan tentang ketuhanan. Aku benar-benar merasa ‘gila’ menemui pemikiran para tokoh tersebut. Pikiranku seperti komputer yang eror dan membuatku cukup kacau kala itu. Alhamdulillah.. puji syukur kepada Allah Subhanallahuwata’ala tidak henti-hentinya ku sematkan dalam hati ini. Kekacauan pada akal itu pun berakhir lebih cepat sebelum mata kuliah itu selesai.
Kita memang dianjurkan untuk membaca. Membaca pun universal maknanya, membaca buku atau pun keadaan sekitar beserta lingkungannya. Membaca tentang sesuatu yang berlawanan dari aqidah Islam sebenarnya tidak masalah, malah bisa dikatakan harus dilakukan. Sebab dengan begitu akan membuat kita bisa melihat dunia. Yang harus disikapi adalah bagaimana pemikiran kita bereaksi. Namun sebelum mencobanya kembali, keyakinanku pun harus diperkuat terlebih dahulu agar dapat menjadi benteng bagai diriku sendiri. Luar biasa efek pemikiran itu.
Betapa bahagianya aku ketika Mr. Suf ingin membimbing kami. Membimbing agar pemikiran ini tidak menyimpang dan memperoleh manfaat dari yang telah kami upayakan ini. “Kalian harus berpikir, karena Allah memerintahkan hambaNYA untuk berpikir (menggunakan akalnya)”, ucapannya yang masih mengiang-ngiang di pendengaranku. Ooh.. wajar saja bila beliau selalu memerintahkan kami untuk membaca dan berpikir. Banyak hal yang dapat dilakukan ketika kita mau menggunakan akal yang telah Tuhan berikan.
Mr. Suf adalah tipe orang yang kritis, terkadang cenderung skeptis terhadap sesuatu. Aku pernah suatu ketika melihatnya berdiri seorang diri di depan pintu ruang jurusan. Melihatnya dari balik kaca bening itu sangat jelas terekam olehku. Ada salah satu kelompok, semacam kelompok diskusi, berada tidak jauh dari pintu itu. Mr. Suf sambil memegang buku dan membuka-bukanya secara acak, ini terlihat dari gerakannya. Setelah beberapa menit aku mengamatinya, ternyata beliau sedikit mendekati kelompok tersebut. Sudah pasti beliau tidak mau bergabung sebab mereka para mahasiswi. Beliau sengaja merapat agar dapat menangkap apa yang sedang diperbincangkan oleh kelompok tersebut, ya mungkin hanya ingin tahu. Setelah beberapa saat beliau pun pergi. Guruku yang satu ini memang benar-benar penyuka mahasiswa yang aktif (berdiskusi).
~~
Menjelang akhir semester, masa paling sibuk menyiapkan pemikiran dalam bentuk karya nyata adalah hal mengasyikkan. Ssstt.. ada banyak cerita unik soalnya.
Barangkali harapku pada Mr. Suf agak berlebihan, karena aku menginginkan hal yang ideal darinya. Padahal beliau juga seorang manusia, tidaklah sempurna dan tak pernah luput dari kesalahan. Semula aku sangat simpati padanya karena pemikiran dan keinginannya untuk membimbing mahasiswanya begitu besar. Baru beliau yang hampir mendekati ‘ideal’-ku. Selanjutnya rasa simpati dan apresiatifku yang semula besar, hilang seketika.
Beberapa kali aku mempertimbangkan kembali soal ‘guru idealku’ itu. Lama kelamaan aku tidak menemukan lagi sinar terang dari seorang guru bernama Mr. Suf. Kekecewaan menderaku hingga aku merasa asing bila bertemu dengannya, meski pun sekadar bersapa-sapa saja. 
Aku yang salah. Kenapa aku begitu mudah mengharapkannya agar benar-benar ingin membimbing kami dengan tulus. Semua terangkum dalam jejakku di masa akhir kuliah. Dari awal mengajukan judul karya ilmiah hingga ujian akhir itu dilaksanakan. Hal yang paling membuatku kecewa adalah kenapa beliau begitu teganya mengeluarkan kata-kata yang tidak semestinya diucapkan oleh seorang guru kepada kami, saat ujian komprehensif. Aku tidak akan menuliskannya di sini karena itu tidak patut aku sampaikan, hanya akan membuat cedera pikirku saja.
Dari peristiwa itu, aku merasa asing pada sosok yang pernah aku harapkan. Dan beberapa kejadian yang sempat membuatku ingin berontak padanya secara terang-terangan. Namun semua itu hanya bisa aku simpan dalam hati. Aku tidak ingin menambah kacau keadaan yang sudah kacau itu. Biarlah. Itu pelajaran berharga untuk kehidupanku esok hari.
~~
Ilmu dan pengalaman yang luar biasa. Berada di tengah-tengah kepribadian yang majemuk begitu memperkaya diri ini. Meski di akhirnya harus kecewa pada yang ku anggap ideal, itu sebuah pengajaran. Memang tidak seharusnya berharap pada manusia yang sejatinya tidak sempurna, apalagi secara berlebih. Hal yang berlebihan itu akan membuat luka dan kecewa diri sendiri. Lebih baik berharap pada Robb Semesta Alam, tanpa meminta imbalan malah akan memberikan sesuatu yang lebih baik bila dari yang kita harap padaNYA.
Bisa jadi Mr. Suf berlaku demikian karena beliau sendiri terjebak dalam kubangan sistem yang salah. Jika seperti itu kebenarannya, aku bisa memakluminya. Dan memaafkannya adalah lebih baik untukku daripada terus memendam rasa benci kepadanya. Semoga aku tidak mengulanginya kembali. Hal yang aku anggap ideal belum tentu sempurna.
~~~
 

Kamis, 26 Juli 2012

Hanya........

Kedelai sudah seperti makanan pokok, tidak lengkap rasanya bila tidak ada tempe atau tahu di meja makan. Sekarang nampaknya harus menyisihkan uang lebih banyak agar dapat mengonsumsinya. Siapa yang tahu kalau harga kedelai akan melambung?

REPUBLIKA.CO.ID, BANYUMAS -- Perajin tahu dan tempe di wilayah Kabupaten Banyumas, saat ini sedang kelimpungan. Hal ini menyusul melonjaknya harga kedelai yang mencapai lebih dari 15 persen sejak sepuluh hari terakhir. ''Kedelai yang tadinya hanya seharga Rp 5.600 hingga Rp 6.000 per kg, kini menjadi Rp 6.800 hingga Rp 7.000. Kenaikan harga ini benar-benar menyulitkan kami,'' kata Purwanto (42), seorang perajin tahu di Desa Kalisari Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas, Rabu (9/5).  Purwanto menyebutkan, harga kedelai yang mengalami kenaikan adalah kedelai yang diimpor dari AS. Kebanyakan perajin tahu dan tempe memang menggunakan bahan baku kedelai impor, karena tahu dan tempe yang dihasilkan memang menjadi lebih baik. ''Kalau menggunakan kedelai lokal, jumlah tahu yang dihasilkan hanya sedikit daripada kalau menggunakan kedelai impor,'' jelasnya.

Jadi penasaran, bukan pada melonjaknya harga impor, melainkan kenapa perajin kedelai justru mengimpor kedelai dari luar Indonesia. Apakah para petani kedelai di Indonesia sudah tidak mencukupi lagi sehingga harus mengimpor dari luar? Atau hanya karena mengukur kuantitas produksi?

Yah, apa pun alasan dan latar belakangnya, semoga itu tidak menambah keruwetan yang ada. Semoga para petani Indonesia dimudahkan dalam menanam dan memroduksi kedelai yang baik. Bahkan jauh lebih baik dari kedelai impor luar sana, jauh lebih aman. insya Allah..