Sabtu, 22 September 2012

Alhamdulillah...

Hari ini saya akan mengutip beberapa motivasi dari Ustadz Yusuf Mansyur. Kutipan ini semoga mencambuk diri agar senantiasa bersyukur kepada Rabb Semesta Alam. Bersyukur tak hanya sebatas mengucapkan ALHAMDULILLAH, namun alangkah lebih baik lagi jika kita lebih memaknai arti bersyukur yang sebenarnya.


yuk kita tengok..... ^^

Ada sebuah kepastian di dunia ini selain datangnya kematian, yaitu bahwa Allah, yang Maharahman Maharahim tidak akan menganiaya seseorang, melainkan karena perbuatannyalah yang menyebabkan menjadi terhukum. Tidak ada yang menyusahkan seseorang, kecuali dirinya sendiri yang membuat susah. Hanya kebanyakan tidak menyadarinya dan mencari sebab kesusahan dari luar dirinya.
"Belumkah datang kepada mer
eka berita penting tentang orang-orang yang sebelum mereka, (yaitu) kaum Nuh, 'Aad, Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk Madyan dan negeri-negeri yang telah musnah?. Telah datang kepada mereka rasul-rasul dengan membawa keterangan yang nyata, maka Allah tidaklah sekali-kali menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri." (QS At-Taubah [9] : 70)


Pikiran itu doa. Sesiapa yang memikirkan hanya baik-baik, insyaAllah ia akan mendapatkan juga yang baik-baik. Sesiapa yang memikirkan yang buruk-buruk, maka ia sama dengan mewujudkan pikiran buruknya itu. Orang-orang yang beriman akan banyak husnudzdzannya (baik sangka) sama Allah di setiap kejadian.

Siapa yang bershalawat kepada Nabi Muhammad Saw 1x, maka Allah akan bershalawat kepadanya 10x.
Bershalawatlah kepada Nabi Muhammad Saw, insyaAllah, Allah dan para Malaikat-Nya mendukung kita, mendukung segala ikhtiar kita, dalam upaya kita menyelesaikan semua kewajiban kita kepada orang lain.
 

 
Menangislah di saat bisa menangis. Itu pendapat sebagian orang bijak. Sebab, menangis bisa sedikit melepas beban. Namun, menangis yang satu ini memang tangisan asli, tangisan abadi yang tidak akan pernah lagi berganti tawa, yaitu ketika dipertontonkan ulang sandiwara kehidupan yang manusia mainkan kemudian.
Ia dihadapkan pada ancaman keabadian siksa negeri akhir. Demi Allah, wahai hatiku, segeralah menemui Allah sebelum semuanya menjadi terlambat. Sekali lagi, demi Allah, wahai hatiku, segeralah menemui Allah sebelum semuanya menjadi terlambat.


Resep hidup ini sebenarnya sangat sederhana: buatlah sebanyak-banyaknya orang bahagia maka kita akan bahagia. Buatlah sebanyak-banyaknya orang menderita maka kita pun akan menderita.
Hal yang biasa jika anak keturunan kita menangis ketika kita meninggal dunia kelak. Yang tidak biasa adalah jika kita sendiri yang menangis, melihat buruknya kehidupan yang sudah kita lalui semasa hidup sementara kita tidak ada lagi di dunia.


Jika biasa tidur di tikar, menjadi kenikmatan yang teramat sangat jika dapat tidur di dipan berbulu angkasa. Namun, jika terbiasa tidur di ranjang mewah, terasa panjanglah malamnya jika tidur beralasan tikar.
Benarlah kata sayyidina Ali,
"Kemiskinan memang kerap membuat orang menjadi kufur. Namun, harta juga sering membuat orang menjadi jauh, jauh dari Tuhannya, sejauh jarak maghrib dan masyriq, sejauh bentangan barat dengan timur."


Keputusasaan terkadang membuat manusia menjadi gamang dan rapuh serta membuat hidup seakan tanpa ruh dan jiwa. Hilang semangat hidup dan semangat untuk berbuat hal lainnya. Untuk itulah Allah sangat melarang manusia berputus asa.
“Jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir." (QS Yusuf [12] : 87)


Banyak orang yang tidak bisa mengingat Allah ketika senang, tetapi justru dia mampu mengingat Allah dan kembali kepada Allah ketika susah dan menderita. Inilah anugerah Allah yang paling besar. Anugerah untuk bisa kembali kepada-Nya dan mengingat-Nya. Mungkin, lewat serangkaian pintu kesusahan inilah yang mengantarkan kita kepada pertobatan dan keyakinan akan kebenaran Allah dan kuasa-Nya.
"Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji". (QS Al-Luqman [31] : 12)


Dunia memang penting untuk dikejar, harta memang penting untuk dicari, posisi sosial memang penting untuk didapatkan. Namun, dalam mengejar, mencari, dan mendapatkan itu semua jangan sampai kita melupakan Allah dan tidak menjadikan kita manusia-manusia yang kering dan hampa.
"Mereka (yang disembah itu) menjawab: "Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagi kami mengambil selain engkau (untuk jadi) pelindung, akan tetapi Engkau telah memberi mereka dan bapak-bapak mereka kenikmatan hidup, sampai mereka lupa mengingati (Engkau); dan mereka adalah kaum yang binasa". (QS Al-Furqan [25] : 18)


Kenali Allah pada saat kaya, Allah akan mengingat Anda ketika miskin. Kenali Allah pada saat miskin, Allah akan mengingat Anda pada saat kaya. Termasuk upaya mengenal Allah pada saat kaya adalah jangan sombong, jangan lupa diri, dan sudi berbagi. Termasuk mengenal Allah pada saat miskin adalah tidak putus asa, tidak berkurang ibadah, dan malah bertambah perlu kepada Allah.
"Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu[98], dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku." (QS Al-Baqarah [2] : 252)


Dunia memang penting untuk dikejar, harta memang penting untuk dicari, posisi sosial memang penting untuk didapatkan. Namun, dalam mengejar, mencari, dan mendapatkan itu semua jangan sampai kita melupakan Allah dan tidak menjadikan kita manusia-manusia yang kering dan hampa.
"Mereka (yang disembah itu) menjawab: "Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagi kami mengambil selain engkau (untuk jadi) pelindung, akan tetapi Engkau telah memberi mereka dan bapak-bapak mereka kenikmatan hidup, sampai mereka lupa mengingati (Engkau); dan mereka adalah kaum yang binasa". (QS Al-Furqan [25] : 18)


Dunia diciptakan dari tiada. Demikian juga dengan sesuatu yang kita anggap kita memilikinya. Jika kemudian ia di tangan kita lalu menghilang lagi, seharusnya kita biasa saja. Toh, awalnya juga kita tidak memiliki sesuatu. Begitulah perumpamaan dunia.
"Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah, Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS Al-Kahfi [18] : 45)


Keluarlah dari lingkungan yang membawa dirimu menjadi buruk atau mendapat bagian keburukan. Jangan pernah lagi mau menjadi mata rantai keburukan. Masuklah kepada kumpulan orang yang menggelar kebaikan. Sering-seringlah mendekati orang alim nan shaleh. Inilah mata rantai kebaikan. Doronglah sebanyak-banyaknya kebaikan supaya kamu memperoleh kebaikan dan supaya hidupmu selamat.
"Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan-amalan yang shaleh, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai; kekal mereka di dalamnya; mereka di dalamnya mempunyai isteri-isteri yang suci, dan Kami masukkan mereka ke tempat yang teduh lagi nyaman." (QS An-Nisaa' [4] : 57)


Tidak usah khawatir akan bahaya yang akan mengancammu. Sebab, jika tidak ada izin Allah, ancaman itu tidak akan terjadi meskipun engkau yang berbuat keburukan itu. Oleh karena itu, cepat-cepatlah kembali kepada Allah, mendekat kepada-Nya, dan memohon pertolongan-Nya.
"Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu." (QS Al-An'am [6] : 17)


Bila Anda menemukan keanehan dalam kehidupan Anda, dulu jaya, sekarang bangkrut; dulu mulia, sekarang hina; dulu kaya, sekarang terjerat hutang; maka pikirkanlah pemusahabahan terhadap diri sendiri untuk kemudian Anda melakukan perbaikan. Pertolongan Allah akan segera datang. Pasti. Pasti pertolongan Allah akan segera datang bagi Anda yang berniat kembali kepada Allah dan berkenan memperbaiki diri.
"Katakanlah kepada mereka yang lupa diri, jika mereka bersedia menghentikan perbuatan buruknya, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Tapi jika mereka kembali, maka berlakulah ketetapan yang semestinya memang terjadi sebagaimana dikenakan kepada mereka terdahulu." (QS Anfaal : 38)